Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Puluhan Cekungan Migas di Indonesia Belum Tersentuh, Ini yang Dilakukan SKK Migas

Nugroho Pandu Cahyo • Minggu, 21 September 2025 | 19:13 WIB
AGRESIF: SKK Migas mendorong KKKSuntuk melakukan eksplorasi 50–60 sumur setiap tahun dengan prinsip biaya efisien dan emisi karbon rendah.
AGRESIF: SKK Migas mendorong KKKSuntuk melakukan eksplorasi 50–60 sumur setiap tahun dengan prinsip biaya efisien dan emisi karbon rendah.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Indonesia ternyata masih menyimpan potensi energi besar yang belum tergarap. Dari total 128 cekungan hidrokarbon, lebih dari separuh atau 65 cekungan migas masih belum dieksplorasi.

Kepala Divisi Prospektivitas Migas dan Manajemen Data Wilayah Kerja SKK Migas Asnidar mengungkapkan data tersebut dalam Media Briefing Indonesia Petroleum Association Convention & Exhibition (IPA Convex) 2025.

Ia menyebut, dari 128 cekungan, hanya 20 yang sudah berproduksi, sementara sisanya masih dalam tahap discovery, terbukti dengan sistem petroleum, indikasi hidrokarbon, hingga sama sekali belum tergarap.

“Dari 128 cekungan, masih ada 65 basin yang unexplored. Artinya, lebih besar dari 50 persen potensi kita belum tergarap. Ini peluang sekaligus tantangan besar bagi kita,” tutur Asnidar.

Ia menambahkan, data ini tidak banyak berubah selama satu dekade terakhir. Karena itu, pemerintah berkomitmen mempercepat eksplorasi agar momentum penting seperti produksi di Blok Masela nantinya bisa mendorong lahirnya cekungan-cekungan baru yang produktif.

Optimisme serupa ditegaskan oleh Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja (EPWMK) SKK Migas Rikky Rahmat Firdaus. Dalam forum Asia-Pacific Petroleum Conference (APPEC) 2025 di Singapura yang dihadiri 1.200 delegasi dari 46 negara, Rikky menekankan pentingnya percepatan eksplorasi untuk mencapai target ambisius pemerintah.

“Pada tahun 2025, SKK Migas mendorong kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) untuk tetap agresif melakukan eksplorasi. Target kami adalah 50–60 sumur eksplorasi setiap tahun dengan prinsip biaya efisien dan emisi karbon rendah,” jelas Rikky.

Menurutnya, penemuan sumber daya baru di Blok Andaman dan Kutai menjadi bukti bahwa Indonesia masih menyimpan potensi besar. Eksplorasi masif akan menjadi kunci pencapaian target produksi 1 juta barel minyak per hari (bopd) pada 2030, sesuai visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Sesuai dengan komitmen SKK Migas menciptakan iklim investasi kondusif. Upaya ini diwujudkan melalui fleksibilitas kontrak, pemberian insentif, serta dorongan untuk menjalin aliansi strategis dengan mitra global. “Percepatan eksplorasi adalah keniscayaan, karena inilah fondasi ketahanan energi nasional ke depan,” tambahnya.

Dengan masih luasnya potensi cekungan yang belum tergarap, peluang investasi sektor hulu migas di Indonesia diyakini tetap terbuka lebar. Tantangannya kini adalah bagaimana mengoptimalkan sumber daya tersebut dengan tetap memperhatikan keberlanjutan dan pengendalian emisi karbon. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#eksplorasi #energi #Hidrokarbon #skk migas #migas #cekungan migas #potensi