KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Upaya pengendalian inflasi di Kalimantan Timur tidak hanya fokus pada pengendalian harga jangka pendek. Bank Indonesia (BI) Kaltim juga mendorong strategi jangka panjang dengan memperkuat ketahanan pangan, pemberdayaan UMKM, hingga mengakselerasi investasi.
Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Kaltim, Budi Widihartanto menyebut, program demonstrasi plot (demplot) pertanian menjadi langkah nyata dalam menjaga pasokan pangan.
"Demonstration Plot Demplot Padi Bioinovasi Benih Terintegrasi Sistem Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA) da Aplikasi Digital Farming berhasil meningkatkan produktivitas padi hingga 72,2 persen dari sebelumnya 3,60 ton per hektare menjadi 6,27 ton per hektare,” jelasnya baru-baru ini.
Selain padi, pihaknya bersama Unmul mengembangkan inovasi pemupukan cabai dengan pupuk batu bara. Metode itu terbukti meningkatkan produktivitas hingga 18 persen, sekaligus menjadi solusi alternatif pengganti pupuk NPK.
Tak hanya pangan, juga memperkuat akses pembiayaan dan literasi keuangan bagi UMKM lewat program BIMA ETAM. Hingga seri ke-6 di Kutai Kartanegara, program itu telah diikuti 764 UMKM dan berhasil menyalurkan pembiayaan produktif kepada 152 UMKM dengan total Rp11,66 miliar.
“BIMA ETAM mendukung peningkatan literasi inklusif, pembiayaan UMKM, elektronifikasi transaksi, dan perlindungan konsumen di Kaltim,” kata Budi.
Dari sisi investasi, pihaknya juga menggencarkan program PIKAT (Profiling Investasi Kalimantan Timur). Program yang berperan menjaring proyek-proyek strategis agar siap ditawarkan ke investor. Dukungan diberikan mulai dari pendampingan prastudi kelayakan (pre-FS), capacity building, hingga masuk daftar Investment Project Ready-to-Offer (IPRO).
Melalui forum investasi MIF (Mahakam Investment Forum), proyek-proyek strategis Kaltim dipromosikan hingga ke level internasional. Pada 2024, MIF bahkan menghadirkan duta besar dan investor dari berbagai negara untuk menjajaki peluang di Kaltim. "Dan terdekat akan kita lakukan MIF 2025, dalam waktu dekat ini," lanjutnya.
Dengan sinergi tiga pilar yakni pangan, UMKM, dan investas, Budi optimistis inflasi tetap terkendali sekaligus mendorong penguatan ekonomi daerah. (*)
Editor : Ismet Rifani