KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Harga-harga di Kaltim kembali merangkak naik. Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat, inflasi tahunan (year-on-year/yoy) September 2025 mencapai 1,77 persen. Kenaikan mendorong Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 106,69 pada September 2024 menjadi 108,58 pada September 2025.
Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana mengungkapkan, kenaikan inflasi dipicu oleh meningkatnya harga di sebagian besar kelompok pengeluaran rumah tangga. “Inflasi yoy terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran,” jelas Yusniar.
Kelompok yang mencatat inflasi tertinggi yakni perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan lonjakan 9,16 persen. Disusul makanan, minuman, dan tembakau 3,61 persen, pendidikan 2,67 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran 2,03 persen.
Adapun kelompok yang mengalami penurunan indeks antara lain transportasi sebesar 1,36 persen dan pakaian serta alas kaki 1,02 persen. Sejumlah komoditas penyumbang inflasi utama di Kaltim, kata Yusniar, antara lain emas perhiasan, beras, bawang merah, ikan layang, sigaret kretek mesin (SKM), kopi bubuk, minyak goreng, hingga nasi lauk.
Sektor pendidikan juga memberi andil cukup besar melalui kenaikan biaya pendidikan dasar dan perguruan tinggi. “Komoditas tersebut menjadi faktor pendorong inflasi sepanjang September 2025,” ujarnya.
Sementara itu, komoditas penyumbang deflasi didominasi dari sektor transportasi dan barang konsumsi rumah tangga. “Beberapa yang berkontribusi menekan inflasi antara lain angkutan udara, bensin, sabun detergen bubuk, telepon seluler, hingga pakaian jadi,” terang dia.
Dengan capaian tersebut, BPS menilai kondisi inflasi Kaltim masih dalam tren terkendali. Namun, harga bahan pokok dan biaya jasa yang cenderung naik tetap harus menjadi perhatian, khususnya menjelang akhir tahun ketika konsumsi masyarakat biasanya meningkat. (*)
Editor : Muhammad Rizki