KALTIMPOST.ID, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa berbicara jujur soal kondisi ekonomi Indonesia yang menurutnya tidak berjalan seimbang selama dua dekade terakhir.
Ia bahkan blak-blakan membandingkan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden Joko Widodo (Jokowi), yang menurutnya mencerminkan dua pendekatan ekonomi yang sangat berbeda dan hasilnya pun tak sama.
“Zamannya Pak SBY, private sector yang hidup. Government santai-santai saja. Tapi GDP-nya bisa tumbuh 6 persen,” ujar Purbaya dalam acara “1 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran” di Jakarta Selatan, Kamis (16/10).
Pernyataan itu sontak menjadi sorotan. Apalagi, Purbaya menambahkan bahwa pada masa Presiden Jokowi, meski pembangunan infrastruktur dilakukan secara besar-besaran, pertumbuhan ekonomi justru stagnan di angka 5 persen.
“Saya pernah bilang ke Pak Jokowi, ‘Kenapa Pak SBY tidur saja pertumbuhannya 6? Tapi Bapak bangun infrastruktur di mana-mana, pertumbuhannya cuma 5?’” ungkapnya.
Menurutnya, selama 20 tahun terakhir, yang tumbuh hanyalah sektor pemerintahan, sementara sektor swasta atau sektor riil justru tertekan.
“Zamannya Pak Jokowi, sektor privat hampir tidak tumbuh, dicekik, sementara government sector-nya berjalan. Jadi selama 20 tahun terakhir, ekonomi kita mesinnya pincang,” tegasnya.
Sektor Riil Melemah, Rakyat Langsung Merasakan Dampaknya
Purbaya tak hanya membandingkan masa lalu, tapi juga menyoroti kondisi ekonomi terkini.
Ia menyebut, sejak April hingga Agustus 2025, sektor riil justru mencatatkan kinerja negatif.
Baca Juga: Tragedi di Kampus Unud: Saat Bullying Mengambil Nyawa dan Empati Dipertanyakan
“Itu bukan protes karena politik kacau, tapi karena ekonomi mereka susah. Kalau cepat diperbaiki, demo itu tidak akan berlarut,” ujarnya, menyinggung gelombang unjuk rasa yang beberapa bulan terakhir marak di berbagai daerah.
Purbaya menegaskan, jika pemerintah ingin mendorong pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen, kedua sektor — publik dan swasta — harus tumbuh bersama.
“Kalau dua-duanya tumbuh, 6 persen lebih itu gampang. Tapi saya dibilang sombong. Sistem ekonomi itu lambat berubah, bisa dua generasi,” tambahnya. ***
Editor : Dwi Puspitarini