KALTIMPOST.ID, SAMARINDA — Likuiditas perusahaan besar di Kalimantan Timur menunjukkan tren menurun pada triwulan II 2025. Data Bank Indonesia (BI) mencatat penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) korporasi mengalami kontraksi cukup dalam setelah sempat tumbuh positif pada periode sebelumnya.
“Pada triwulan II 2025, DPK korporasi Kaltim terkontraksi 8,17 persen (yoy), setelah tumbuh positif pada periode sebelumnya,” kata Kepala KPw BI Kaltim Budi Widihartanto. Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya kebutuhan dana perusahaan untuk menopang kegiatan operasional dan ekspansi.
Perlambatan paling signifikan terjadi pada komponen giro. “Perlambatan tersebut disebabkan oleh kontraksi pada giro sebesar 19,40 persen (yoy),” ungkap Budi. Hal itu, lanjutnya, berkaitan erat dengan meningkatnya kebutuhan likuiditas korporasi untuk mendukung kegiatan usaha.
Menurutnya, peningkatan aktivitas ekonomi juga tergambar dari pertumbuhan PDRB sektor utama, khususnya industri pengolahan. “Peningkatan PDRB sektor utama khususnya industri pengolahan tercatat sebesar 15,12 persen (yoy),” jelasnya.
Budi menerangkan, peningkatan aktivitas di sektor pengolahan menjadi salah satu sinyal positif bagi perekonomian daerah. Namun, di sisi lain, perusahaan cenderung menarik simpanan untuk kebutuhan pembiayaan produksi dan investasi.
Adapun berdasarkan struktur penghimpunan, giro tetap menjadi penyumbang terbesar terhadap DPK korporasi. “Giro menyumbangkan pangsa terbesar terhadap DPK korporasi yakni 54,85 persen, diikuti oleh deposito dan tabungan masing-masing 33,63 persen dan 11,52 persen,” paparnya.
Perubahan perilaku penyimpanan itu, menjadi refleksi dari strategi perusahaan dalam mengatur likuiditas. Banyak korporasi memilih menahan dana dalam bentuk yang lebih fleksibel guna menjaga arus kas di tengah kebutuhan operasional yang meningkat. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo