KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Di tengah kompetisi global dan meningkatnya arus perdagangan, fondasi tata kelola perusahaan pelabuhan dalam mengelola risiko menjadi faktor strategis yang berdampak langsung terhadap efisiensi operasional dan keberlanjutan bisnis. Sekaligus menjadi kunci pertumbuhan ekonomi di sektor logistik dan pelabuhan.
Menjawab tantangan tersebut, PT Kaltim Kariangau Terminal (KKT) menggelar Validasi Risk Maturity Index (RMI) sebagai bagian dari program strategis PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) dalam rangka memvalidasi hasil pengukuran RMI Tahun Buku 2024 yang sebelumnya dilakukan secara self-assessment di masing-masing anak perusahaan.
Direktur Keuangan SDM dan Manajemen Risiko PT KKT Faisal Napu mengatakan, penguatan budaya manajemen risiko bukan hanya kewajiban administratif, tetapi juga investasi strategis untuk meningkatkan daya saing perusahaan di sektor ekonomi yang semakin dinamis.
“Manajemen risiko bukan hanya tugas satu departemen, tetapi tanggung jawab bersama. Setiap insan KKT harus memiliki kesadaran dan kemampuan dalam mengenali serta mengendalikan risiko di lingkungannya. Everybody is Risk Manager. Dengan kesadaran risiko yang kuat, bersama kita bisa bekerja lebih aman, produktif, dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Dalam konteks ekonomi pelabuhan, penerapan sistem manajemen risiko yang matang memberikan dampak langsung terhadap efisiensi biaya, peningkatan produktivitas, serta keandalan layanan logistik. Hal ini penting karena pelabuhan merupakan simpul vital rantai pasok nasional yang mendukung arus barang antarwilayah dan ekspor-impor.
Kegiatan validasi RMI tersebut melibatkan tim Fungsi Manajemen Risiko (FMR) dan Satuan Pengawasan Intern (SPI) PT KKT, bersama perwakilan tim risiko dari SPTP Group. Proses validasi dilakukan dengan metode cross validation, di mana evaluator dari anak perusahaan lain ikut memastikan objektivitas hasil penilaian dan konsistensi penerapan standar manajemen risiko.
Tim melakukan pemeriksaan dokumen, wawancara dan observasi lapangan untuk mengukur efektivitas kebijakan serta praktik manajemen risiko di lingkungan terminal. Validasi ini juga berfungsi memperkuat tata kelola perusahaan dan memperluas kemampuan mitigasi risiko dalam menghadapi tantangan bisnis, mulai dari fluktuasi ekonomi global hingga aspek operasional seperti keselamatan dan keandalan fasilitas.
Vice President Risiko PT Pelindo Terminal Petikemas Abdulloh Makhrus, mengapresiasi komitmen tinggi KKT dalam membangun budaya risiko yang kuat. Menurutnya, langkah KKT menjadi contoh positif bagaimana penerapan manajemen risiko dapat menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
“PT KKT menunjukkan komitmen tinggi dalam penerapan manajemen risiko yang terintegrasi. Pendekatan ini bukan hanya untuk kepatuhan, tetapi juga memastikan setiap keputusan bisnis diambil secara terukur dan berorientasi pada keberlanjutan. KKT menjadi contoh positif bagaimana penerapan risk management dapat mendukung kinerja operasional dan efisiensi di lapangan,” tutur Abdulloh.
Lanjutnya, kegiatan validasi RMI tidak hanya bersifat evaluatif, tetapi juga edukatif. Proses ini menjadi ajang berbagi pengetahuan dan praktik terbaik antarperusahaan dalam SPTP Group, guna menciptakan ekosistem risiko yang adaptif, kolaboratif, dan mampu menghadapi perubahan lingkungan bisnis yang cepat.
Selain validasi, kegiatan ini juga diisi dengan sesi best practice sharing, di mana tim PT KKT mempresentasikan berbagai inisiatif peningkatan, seperti Safety Transformation Program, Standardisasi Terminal Petikemas, penguatan kompetensi SDM, serta program efisiensi energi dan operasional terminal.
Inisiatif-inisiatif tersebut menunjukkan arah kebijakan perusahaan yang berorientasi pada efisiensi dan keberlanjutan, dua pilar penting dalam pertumbuhan ekonomi modern. Faisal menegaskan kembali bahwa keberhasilan sistem manajemen risiko tidak hanya diukur dari dokumen atau indikator kepatuhan, tetapi dari sejauh mana seluruh karyawan mampu menerapkannya dalam budaya kerja sehari-hari.
PT Kaltim Kariangau Terminal mempertegas perannya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui efisiensi logistik dan pengelolaan risiko yang tangguh. Dengan tata kelola yang kuat dan budaya risiko yang melekat, KKT berkomitmen menjadi terminal yang handal, aman, dan berdaya saing tinggi di era ekonomi berkelanjutan.
“Manajemen risiko adalah bagian dari budaya kerja. Dengan disiplin, kolaborasi, dan kepedulian dari seluruh insan KKT, kita bisa menjaga integritas operasional, keselamatan kerja, dan kepercayaan para stakeholder serta pelanggan secara berkelanjutan,” tutupnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo