KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Naiknya harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyebabkan Balikpapan mengalami inflasi.
Secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi di Kota Minyak pada Oktober lalu tercatat sebesar 0,03 persen, sementara inflasi tahun kalender (year to date/ytd) mencapai 1,37 persen.
Sementara tingkat inflasi tahunan (year on year/yoy) sebesar 1,81 persen, meningkat dibanding Oktober 2024 yang hanya 1,51 persen.
“Kenaikan harga di beberapa komoditas makanan dan produk kebutuhan sehari-hari memberikan kontribusi terbesar terhadap laju inflasi di Balikpapan selama Oktober,” ucap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan Marinda Dama, Selasa (4/11).
Berdasarkan data BPS, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil inflasi tertinggi sebesar 1,31 persen, disusul oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,71 persen.
Beberapa komoditas yang dominan menyumbang inflasi bulanan antara lain emas perhiasan, air kemasan, semangka, kangkung, jeruk, kopi bubuk, serta tarif kendaraan roda empat online.
Sementara itu, kelompok kesehatan menyumbang 0,05 persen, pendidikan 0,13 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,12 persen. Di sisi lain, kelompok yang mengalami deflasi antara lain pakaian dan alas kaki sebesar 0,16 persen, serta transportasi sebesar 0,23 persen akibat turunnya harga tiket angkutan udara.
Marinda menambahkan, dari sisi tahunan, kenaikan harga cukup terlihat pada tujuh kelompok pengeluaran utama. “Kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik 4,28 persen secara tahunan, diikuti kelompok kesehatan 1,81 persen, serta kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 3,17 persen,” paparnya.
Adapun inflasi di Balikpapan pada Oktober 2025 lebih tinggi dibanding Berau (1,78 persen), namun masih di bawah Paser (2,47 persen) yang tercatat sebagai daerah dengan inflasi tertinggi di Kalimantan Timur.
Secara umum, BPS menilai tren inflasi Balikpapan masih terkendali di bawah angka 3 persen, mencerminkan stabilitas harga yang cukup baik di tengah dinamika pasokan dan permintaan.
“Kami tetap mengimbau masyarakat dan pelaku usaha untuk memperhatikan pergerakan harga bahan pokok menjelang akhir tahun agar inflasi tetap stabil,” tutur Marinda. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo