KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Setelah sempat stabil di bulan sebelumnya, kinerja ekspor nonmigas Kalimantan Timur kembali melemah pada September 2025. Nilai ekspor ke 12 negara tujuan utama tercatat USD 1.475,05 juta, turun USD 33,42 juta atau 2,22 persen dibandingkan Agustus 2025.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Yusniar Juliana menjelaskan, pelemahan ekspor September terutama dipengaruhi oleh turunnya nilai pengiriman ke sejumlah negara utama. “Penurunan nilai ekspor ke beberapa negara tujuan utama seperti Tiongkok yang turun USD 90,48 juta (14,12 persen), Filipina yang turun USD 25,39 juta (20,16 persen), dan Jepang yang turun USD 18,54 juta (13,85 persen),” terangnya.
Dari data BPS, penurunan paling signifikan terjadi di Tiongkok, dari USD 640,58 juta pada Agustus menjadi USD 550,10 juta pada September 2025. Ekspor ke Filipina juga menyusut dari USD 125,97 juta menjadi USD 100,58 juta, sementara ke Jepang menurun dari USD 133,83 juta menjadi USS 115,29 juta.
Kinerja ekspor ke kawasan ASEAN secara keseluruhan masih menunjukkan peningkatan, naik dari USD 280,38 juta menjadi USD 298,27 juta atau tumbuh 6,38 persen. Namun, total ekspor nonmigas tetap melandai karena negara-negara mitra utama di Asia Timur mengalami kontraksi.
"Secara kumulatif Januari-September 2025, ekspor nonmigas Kaltim ke 12 negara tujuan utama mencapai USD 12.451,11 juta, turun 15,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya," lanjut Yusniar.
Selama periode tersebut, Tiongkok tetap menjadi negara tujuan ekspor terbesar dengan nilai USD 4.440,62 juta atau 32,23 persen dari total ekspor nonmigas. Diikuti India senilai USD 2.339,79 juta (16,98 persen), dan Filipina yakni USD 1.194,53 juta (8,67 persen).
Sementara itu, nilai ekspor nonmigas Kaltim ke kawasan ASEAN tercatat USD 3.235,62 juta dengan kontribusi 23,48 persen, dan ke kawasan Uni Eropa USD 198,43 juta dengan peranan 1,44 persen terhadap total ekspor nonmigas.
"Secara total, nilai ekspor nonmigas Kaltim selama Januari-September 2025 mencapai USD 13.779,94 juta, atau turun 15,15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya," tutupnya. (*)
Editor : Sukri Sikki