KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengalami deflasi sebesar 0,48 persen (mtm) pada Oktober 2025. Namun secara tahunan, IHK PPU masih mencatat inflasi sebesar 2,47 persen (yoy) , lebih rendah dari nasional, tapi lebih tinggi dibandingkan gabungan empat kota di Kaltim.
Deflasi di PPU terutama disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 0,68 persen. Lima komoditas yang mengalami penurunan harga terbesar adalah ikan tongkol, ikan layang, tomat, cabai rawit, dan bawang merah.
"Penurunan harga ini terjadi karena musim panen di Sulawesi dan Jawa yang membuat pasokan melimpah, serta hasil tangkapan ikan yang meningkat di wilayah pesisir PPU," ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi.
Namun, inflasi di daerah tersebut masih ditopang oleh beberapa komoditas seperti nasi dengan lauk, emas perhiasan, daging ayam ras, serta rokok jenis SKM dan SKT. Kenaikan harga nasi dengan lauk disebabkan naiknya harga bahan baku seperti sayuran dan protein hewani, sedangkan harga rokok naik akibat penyesuaian cukai hasil tembakau (CHT) pada awal tahun.
Selain itu, BI mencermati sejumlah risiko yang berpotensi mendorong inflasi menjelang akhir tahun. Salah satunya adalah masuknya puncak musim hujan di daerah sentra produksi yang dapat memengaruhi pasokan bahan pangan, khususnya komoditas hortikultura seperti sayuran dan buah-buahan.
Selain itu, peningkatan permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) juga perlu diwaspadai karena bisa memicu kenaikan harga apabila stok tidak mencukupi.
“Menjelang Nataru, permintaan biasanya naik cukup signifikan. Karena itu, koordinasi pengendalian inflasi harus semakin diperkuat agar harga tetap stabil,” jelas Robi.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, BI Balikpapan bersama TPID terus memperkuat langkah-langkah pengendalian inflasi melalui lima strategi utama, yakni pemantauan harga bahan pokok secara periodik, termasuk sidak pasar. Mitigasi risiko kenaikan harga lewat rapat koordinasi rutin TPID.
Kemudian penguatan kerja sama antar daerah (KAD) untuk menjaga kelancaran pasokan. Pelaksanaan gelar pangan murah dan operasi pasar di tingkat kota hingga kelurahan. Hingga gerakan pemanfaatan lahan pekarangan untuk menanam komoditas hortikultura.
“Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan masyarakat melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). Kami berkomitmen menjaga inflasi Balikpapan dan PPU tetap dalam rentang sasaran nasional, yakni 2,5 persen plus minus 1 persen," tutupnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo