Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Proyeksi Harga CPO Bakal Bullish Tahun 2026, Analis Global Bidik US$1.125/Ton

Ari Arief • Minggu, 16 November 2025 | 12:00 WIB

NAIK: Pekerja kelapa sawit saat menaikkannya buah tersebut ke dalam sebuah angkutan.
NAIK: Pekerja kelapa sawit saat menaikkannya buah tersebut ke dalam sebuah angkutan.

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Prospek harga Crude Palm Oil (CPO) diprediksi akan menguat signifikan pada tahun 2026, diperkirakan bergerak di rentang US$ 1.050 hingga US$ 1.125 per ton.

Para analis dan pemain industri menilai pasar sawit global tengah memasuki fase bullish, didorong oleh melambatnya laju pertumbuhan produksi, melonjaknya permintaan untuk biodiesel, serta adanya potensi kebijakan ekspor yang semakin ketat.

Ketua Bidang Luar Negeri Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), M. Fadhil Hasan, meyakini bahwa harga CPO akan bertahan tinggi hingga kuartal pertama 2026.

“Kami memproyeksikan harga minyak sawit dalam jangka pendek, hingga kuartal I 2026, akan tetap tinggi. Angka akan berkisar antara US$1.050 sampai US$1.125 per ton,” jelas Fadhil dalam 21st Indonesian Palm Oil Conference and 2026 Price Outlook (IPOC) di Nusa Dua, Bali, Jumat (14/11).

Fadhil menyebut bahwa meskipun produksi CPO dan Palm Kernel Oil (PKO) menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik saat ini, tren ke depan mengarah pada laju pertumbuhan yang lebih moderat. Hal ini menjadi faktor kunci yang dapat mendorong penguatan harga di pasar internasional.

Baca Juga: Anak Muda Dorong Transformasi Digital Industri Sawit lewat Hackathon Nasional 2025

Berdasarkan data Gapki, produksi CPO dan PKO pada periode Januari–Agustus 2025 tercatat tumbuh sebesar 13% dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Sejalan dengan itu, kinerja ekspor juga melonjak 15% berkat permintaan global yang terus meningkat.

Sementara itu, konsumsi sawit domestik bertambah 4,5%, didorong oleh ekspansi industri pangan dan perluasan mandat biodiesel.

Mengacu pada data tersebut, Gapki memperkirakan produksi sawit nasional pada 2025 akan naik 3–7%, sedangkan output untuk tahun 2026 diprediksi tumbuh lebih moderat, yaitu sekitar 3–4%.

Senada dengan Gapki, Analis Senior Godrej International Ltd., Dorab Mistry, menilai tekanan harga yang dihadapi CPO saat ini justru menciptakan potensi untuk rebound yang kuat. Mistry berpandangan bahwa pasar minyak nabati global berada dalam kondisi oversold (terlalu banyak dijual), situasi yang secara historis sering mendahului tren kenaikan harga signifikan.

Baca Juga: Menteri Bappenas Tegaskan Sawit Bukan Sekadar Komoditas, Tapi Fondasi Pembangunan Nasional

Ia menambahkan, titik balik harga akan terjadi ketika volume produksi mulai menurun pada akhir tahun. Menurutnya, periode Januari hingga Maret 2026 akan menjadi fase yang sangat bullish bagi pasar CPO, di mana sentimen positif kemungkinan besar akan mendominasi kontrak berjangka.

Mistry bahkan menyebut kenaikan harga hingga 5.500 Ringgit sangat mungkin terwujud, terutama jika Pemerintah Indonesia melakukan penyesuaian terhadap kebijakan Domestic Market Obligation (DMO).

Pengetatan DMO akan secara langsung membatasi pasokan ekspor dan mendorong harga global lebih tinggi. Ia menegaskan, posisi dan kebijakan Indonesia akan sangat menentukan harga dunia. Selain itu, rencana implementasi biodiesel B50 juga dianggap sebagai faktor pendukung tambahan terhadap penguatan harga.

“Mulai saat ini, faktor harga terbesar adalah kebijakan biodiesel Amerika Serikat. Pasokan untuk 2026 tidak terlihat nyaman. El Niño telah terantisipasi, dan oleh karena itu, prospek 2026 bersifat bullish,” ungkap Mistry.

Di samping CPO, Mistry juga menyinggung dinamika harga minyak nabati lain, khususnya minyak bunga matahari, yang diperkirakan akan kembali kompetitif pada pertengahan 2026, tetapi “hanya setelah minyak bunga matahari kehilangan pangsa pasar yang signifikan, terutama di India,” ujarnya.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
#prediksi #kelapa sawit #2026 #analis global