KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Manajemen Pelita Air akhirnya angkat bicara mengenai perkembangan rencana penggabungan (merger) maskapai tersebut dengan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.
Patria Rhamadonna, Pj Corporate Secretary Pelita Air, menegaskan bahwa mereka siap mematuhi keputusan apa pun yang akan ditetapkan oleh Danantara sebagai pemegang saham. Patria menyatakan bahwa proses konsolidasi kedua maskapai BUMN ini masih dalam pembahasan intensif oleh Danantara.
Ia menilai rencana merger Pelita Air dan Garuda Indonesia adalah keputusan yang bersifat strategis, diorientasikan pada kepentingan nasional alih-alih sekadar langkah korporasi.
"Kami percaya apa pun keputusannya, itu pasti untuk kepentingan bangsa. Saat ini masih terus dibicarakan,” ungkapnya, dikutip Kamis (27/11).
Baca Juga: Eks Dirut Garuda Wamildan Tsani Menjabat Senior Director di Danantara
Meskipun belum bisa memastikan batas waktu penyelesaian penggabungan, Patria menjamin bahwa jika rencana ini dilanjutkan, prosesnya akan diupayakan secepat mungkin. "Targetnya? Ya pasti secepatnya,” katanya.
Saat ini, prioritas utama Pelita Air adalah memastikan kesiapan operasional dalam menghadapi periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) guna menjamin kelancaran layanan transportasi. "Yang utama adalah memastikan pelayanan publik tetap berjalan," tambahnya.
Konsolidasi Strategis BUMN
Sebelumnya, Danantara telah mengonfirmasi bahwa rencana peleburan Pelita Air dan Garuda Indonesia akan tetap berlanjut, meskipun sempat memicu penolakan di kalangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Rencana konsolidasi ini sejalan dengan upaya restrukturisasi besar-besaran di PT Pertamina (Persero), yang mulai melepaskan aset non-migas dan non-EBT melalui mekanisme spin-off ke Danantara.
Baca Juga: Bangun Budaya Kerja Aman, Pertamina Gelar Kontraktor HSSE Forum di Kalimantan
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menjelaskan pada September lalu bahwa langkah ini merupakan bagian dari transformasi untuk mengembalikan fokus perusahaan ke sektor migas dan energi baru terbarukan (EBT). Selain sektor aviasi, Pertamina juga tengah menjajaki pelepasan unit bisnis kesehatan dan asuransi milik PT Patra Jasa.
Dony Oskaria, Chief Operating Officer Danantara Indonesia, menegaskan bahwa konsolidasi antar-BUMN adalah sebuah keniscayaan. Menurutnya, roadmap BUMN sudah jelas: setiap industri harus diintegrasikan dan tidak lagi tersebar dalam berbagai entitas.
“Ke depan, industri aviasi itu jadi satu klaster airlines. Pertamina fokus jadi perusahaan oil and gas. Itu roadmap-nya, meski dalam perjalanan pasti ada pro dan kontra,” ujar Dony. Rencana peleburan ini juga mencakup BUMN di sektor Karya, manufaktur baja, proyek kereta cepat, dan asuransi.(*)
Editor : Thomas Priyandoko