KALTIMPOST.ID, SAMARINDA — Kalimantan Timur (Kaltim) memasuki 2025 dengan dinamika berat dari sisi global maupun domestik. Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Bayuadi Hardiyanto, menegaskan bahwa ekonomi daerah masih mampu menjaga resiliensi.
“Kita resilien dengan pertumbuhan sebesar 4,26 persen secara tahunan, meneruskan tren pertumbuhan positif sejak awal tahun di tengah tingginya ketidakpastian perkembangan global,” papar Bayuadi.
Dia menjelaskan, kinerja tersebut ditopang industri pengolahan terutama migas, disusul konsumsi rumah tangga yang stabil. Namun tekanan tetap besar. “Ekonomi Kaltim saat ini menghadapi tantangan seiring harga batu bara acuan yang cenderung stagnan,” jelasnya.
Asisten Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Kaltim, Ujang Rachmad, menaruh perhatian pada kondisi geopolitik global. “Ketenangan geopolitik internasional masih menekan stabilitas dan pasok dan volatilitas harga komoditas dunia,” katanya.
Kondisi itu membuat pergerakan ekonomi menjadi penuh tantangan. Ujang menilai pembangunan IKN dan berlanjutnya proyek strategis nasional memberi dua sisi bagi perekonomian daerah.
“Semua ini menghadirkan dua sisi, tantangan dan peluang besar,” ujarnya saat Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) Kaltim.
Sementara itu, inflasi Kaltim pada Triwulan III 2025 tercatat tetap terkendali. “Inflasi Kaltim tercatat sebesar 1,77 persen secara year on year (yoy), berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1 persen,” jelas Bayuadi.
Ke depan, pihaknya memprakirakan pertumbuhan Kaltim dapat mencapai 4,3-5,1 persen pada akhir 2025. Meski demikian, ketergantungan terhadap komoditas ekstraktif disebut masih menjadi sorotan.
“Ketergantungan ekonomi Kaltim pada sektor ekstraktif membawa risiko besar terutama dalam keberlanjutan ekonomi dan lingkungan,” tambah Bayuadi. (*)
Editor : Sukri Sikki