Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Terdampak Pemangkasan Dana Transfer dari Pemerintah Pusat, Revitalisasi Pasar Inpres Balikpapan Tertunda

Ulil Mu'Awanah • Senin, 1 Desember 2025 | 20:57 WIB
PILIHAN: Pemangkasan dana transfer dari pemerintah pusat membuat rencana revitalisasi Pasar Inpres Kebun Sayur Balikpapan harus ditunda.
PILIHAN: Pemangkasan dana transfer dari pemerintah pusat membuat rencana revitalisasi Pasar Inpres Kebun Sayur Balikpapan harus ditunda.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Rencana revitalisasi Pasar Inpres Kebun Sayur yang sebelumnya telah mendapatkan persetujuan ratusan pedagang terpaksa ditunda akibat kebijakan pemangkasan dana transfer dari pemerintah pusat.

Padahal, seluruh persiapan teknis telah rampung, mulai dari penyusunan Detail Engineering Design (DED) hingga kesiapan alokasi anggaran awal untuk memulai pembangunan.

Kepala Dinas Perdagangan Balikpapan Haemusri Umar menuturkan, proyek yang semula dijadwalkan berjalan dalam waktu dekat tersebut harus digeser karena pemerintah kota kehilangan ruang fiskal yang cukup untuk membiayai pembangunan fisik sepanjang tahun anggaran mendatang.

Dampaknya, seluruh proyek konstruksi di bawah Dinas Perdagangan tidak dapat dilaksanakan. “Padahal duitnya sudah ada, pedagang sudah setuju dan saya sudah sosialisasi. Tapi karena kurang dana salur dari pusat, pembangunan Pasar Impres harus ditunda,” bebernya, Senin (1/12).

Meski demikian, Haemusri menegaskan bahwa pemerintah tetap berkomitmen menjalankan revitalisasi. Dalam rapat lanjutan dengan perwakilan pedagang, ia tetap mempresentasikan DED serta rencana teknis pembangunan untuk menunjukkan bahwa proyek tidak dibatalkan, tetapi ditunda sambil menunggu pemulihan fiskal nasional.

“Karena ada pembatalan, saya rapat lagi sama mereka untuk pemberitahuan. Tapi saya tetap tampilkan DED untuk perencanaan,” katanya. Revitalisasi Pasar Inpres dinilai sangat penting mengingat kondisi bangunannya yang sudah tua, sirkulasi yang kurang tertata, dan jumlah pedagang yang terus bertambah.

Dalam beberapa tahun terakhir, pasar tersebut menghadapi tantangan berupa keterbatasan ruang usaha, penataan kios yang tidak optimal, hingga kebutuhan perbaikan fasilitas sanitasi dan drainase. Kondisi itu membuat modernisasi pasar menjadi kebutuhan mendesak bagi pedagang maupun pembeli.

Penundaan revitalisasi juga berpotensi mempengaruhi daya saing pasar tradisional di tengah maraknya pertumbuhan ritel modern di Kota Minyak. Pemerintah daerah berharap para pedagang dapat memahami bahwa penjadwalan ulang ini bukan bentuk ketidakseriusan, melainkan bagian dari upaya menjaga keseimbangan fiskal daerah terutama setelah transfer pusat mengalami pemangkasan signifikan.

Haemusri menyampaikan optimismenya bahwa proyek tetap dapat berjalan ketika kondisi anggaran kembali pulih. “Kalau situasi keuangan normal dan dana salur tersedia, kami siap memulai kembali. Yang penting pedagang tahu pemerintah tidak meninggalkan komitmen,” tegasnya.

Sambil menunggu revitalisasi resmi dilakukan, Dinas Perdagangan memastikan pengelolaan Pasar Inpres tetap berjalan melalui perawatan rutin dan penataan operasional harian agar aktivitas ekonomi masyarakat tetap lancar. Pemerintah berharap, ketika revitalisasi nanti dimulai, pasar dapat berubah menjadi pusat perdagangan yang lebih modern, aman, dan layak bagi seluruh pelaku usaha.

"Pasar Inpres Kebun Sayur ini kan juga pasar legend, pusat destinasi belanja oleh-oleh cenderamata juga, yang pastinya memang harus dipercantik juga agar pengunjung semakin nyaman dan pedagang pun bisa menjajakan dagangannya dengan aman," pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#kebun sayur #pasar inpres #revitalisasi #pemangkasan #balikpapan #dana transfer