KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Ekonomi Kalimantan Timur (Kaltim) kembali melambat pada triwulan III 2025. Penurunan itu terutama dipicu kinerja sektor pertambangan dan konstruksi yang terkontraksi, disusul tiga lapangan usaha (LU) utama lainnya yang ikut melambat.
“Perlambatan didorong oleh pertambangan dan konstruksi yang terkontraksi, serta industri pengolahan, pertanian, dan perdagangan yang juga melambat,” jelas Kepala Kantor Perwakilan (KPw BI) Kaltim Budi Widihartanto.
Di sektor pertambangan, kinerja batu bara masih belum bangkit bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Lesunya permintaan dari negara mitra dagang menjadi penekan utama. “Permintaan batu bara tetap lemah karena tingginya pasokan di negara mitra dagang dan konsumsi yang tertahan akibat isu peralihan menuju energi terbarukan,” ujar Budi.
Baca Juga: Lonjakan Impor Nonmigas Kaltim Oktober 2025, Tiongkok Masih Mendominasi
Lapangan usaha konstruksi juga ikut tertekan. Normalisasi pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) setelah percepatan besar-besaran pada 2024 membuat progres konstruksi tahun ini menurun.
Hal itu membuat kontraksi sektor konstruksi cukup terasa di triwulan laporan. Penurunan sempat terjadi pula pada industri pengolahan khususnya industri CPO yang tercermin dari penurunan ekspor serta melambatnya kinerja refinery migas.
Meski begitu, Budi menegaskan sektor industri pengolahan tetap memiliki fondasi level yang kuat. “Secara level, industri pengolahan masih meningkat signifikan seiring penambahan kapasitas RDMP RU V,” ungkapnya. Namun pelemahan industri CPO ikut menahan kinerja sektor pertanian, sejalan dengan prakiraan penurunan produksi TBS kelapa sawit.
Dari sisi perdagangan, perlambatan juga terjadi akibat minimnya agenda besar dibandingkan tahun lalu. Pada periode yang sama tahun 2024, Kaltim menjadi tuan rumah upacara HUT RI ke-79 di IKN dan MTQ Nasional Samarinda yang mendongkrak kunjungan dan aktivitas dagang. Tahun ini, frekuensi kegiatan jauh lebih rendah.
Secara struktur ekonomi, pertambangan masih menjadi sektor dominan dengan pangsa 33,19 persen. Disusul industri pengolahan (20,61 persen), konstruksi (11,80 persen), pertanian (9,58 persen), dan perdagangan (7,70 persen). Lima sektor itu menguasai 82,88 persen ekonomi Kaltim. “Andil pertumbuhan tertinggi triwulan III disumbangkan industri pengolahan sebesar 2,56 persen, sementara pertanian dan perdagangan menyumbang masing-masing 0,49 persen,” papar Budi.
Di sisi lain, kontraksi sektor konstruksi dan pertambangan membuat keduanya mencatatkan andil negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Kaltim, yakni masing-masing –0,10 persen dan –0,13 persen secara tahunan. Dia menilai tekanan di dua sektor tersebut masih akan menjadi perhatian dalam menjaga momentum pertumbuhan Kaltim hingga akhir tahun. (*/riz)
Editor : Muhammad Rizki