KALTIMPOST.ID-Di tengah pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), keperluan akan sistem logistik yang efisien menjadi krusial.
Balikpapan, sebagai pintu gerbang utama Kaltim, menyimpan potensi besar untuk menopang arus barang menuju kawasan inti pemerintahan tersebut.
Salah satu simpul logistik yang kini mendapat sorotan adalah Terminal Peti Kemas (TPK) Kariangau, Balikpapan yang dioperasikan PT Kaltim Kariangau Terminal (KKT).
Perusahaan patungan antara PT Pelindo Terminal Peti Kemas dan Perusda Melati Bhakti Satya (MBS) milik Pemprov Kaltim itu berdiri sejak 2012. Seiring bergeraknya pembangunan IKN, peran KKT semakin strategis.
Hal itulah yang mengemuka dalam kunjungan jajaran KKT ke Gedung Biru Kaltim Post, Balikpapan dalam rangka program visit media, Kamis (11/12).
Suasana hangat langsung tercipta ketika Direktur Utama sekaligus Plh Direktur Operasi dan Teknik KKT Enriany Muis, bersama Kepala Sekretaris Perusahaan Tani Wijaya, Asman Hukum & Humas Amiruddin, dan sejumlah staf disambut oleh Direktur Kaltim Post Erwin Dede Nugroho.
Dalam perbincangan tersebut, Enriany memaparkan potret terkini arus logistik di KKT. Ia menyebut bahwa mobilitas peti kemas masih didominasi barang konsumsi yang masuk ke Balikpapan.
“Mayoritas aktivitas di KKT adalah barang masuk. Komoditas yang kembali itu sangat terbatas, sehingga sebagian besar kontainer pulang dalam keadaan kosong,” jelasnya.
Secara statistik, hanya sekitar 3–4 persen peti kemas yang bersifat internasional. Dominasi domestik itu erat kaitannya dengan terbatasnya industri pendukung di kawasan hinterland KKT yang hanya mencakup Balikpapan, Penajam Paser Utara, dan Samboja.
“Hinterland kami tidak seluas Samarinda. Produksi lokal minim, sehingga barang keluar sedikit sekali, hanya seperti limbah atau spare part,” ujarnya.
Meski demikian, peluang tetap terbuka. Enriany menyebut koordinasi dengan Kutai Refinery Nusantara (KRN) serta program dari Export Center Balikpapan bisa mengakselerasi volume.
Contoh barang yang keluar melalui KKT adalah hasil olahan, sementara bahan kimia untuk Pertamina rutin masuk melalui terminal tersebut.
Ada pula terkait dinamika peralihan layanan peti kemas dari Pelabuhan Semayang ke KKT. Dengan keterbatasan lahan dan kemacetan yang terjadi di Semayang, sebagian besar peti kemas kini dialihkan ke Kariangau. Dan Semayang menangani kapal roro dan barang konvensional dengan volume kecil.
Volume pekerjaan di KKT itu selalu mencerminkan geliat ekonomi daerah. “Dua tahun terakhir, 2023–2024, memang tinggi. Tapi tahun ini ada tren melandai, salah satunya karena kegiatan IKN juga ikut menurun,” beber Enriany.
Penurunan tersebut berdampak pada pergerakan logistik kendaraan pembangunan yang sebelumnya memberi kontribusi besar.
Di sisi lain, kargo keluar berupa batu bara sempat meningkat, namun terkendala regulasi dan isu lingkungan.
Meski menghadapi tantangan, Enriany tetap optimistis. Ia menilai ada peluang besar dari dorongan pemerintah terhadap UMKM untuk melakukan ekspor. Salah satu yang sudah berjalan adalah pengiriman damar batu ke Sri Lanka.
“Kita melihat pemerintah semakin gencar mendorong ekspor UMKM. Contohnya pengiriman damar batu sebagai bahan campuran cat. Harapan kami, kegiatan seperti ini tidak hanya seremonial, tapi bisa berkesinambungan. KKT siap mendukung demi kemajuan ekonomi daerah,” ungkapnya.
Setelah berdiskusi di ruang rapat lantai III, rombongan diajak meninjau area redaksi hingga melihat proses cetak langsung di ruang percetakan. Enriany terlihat antusias menyaksikan alur produksi harian koran pertama di Kaltim itu. (rd)
ULIL MUAWANAH
Editor : Romdani.