KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji menekankan pentingnya penguatan early warning system (EWS) dalam pengendalian inflasi daerah. Langkah ini dinilai krusial untuk mengantisipasi potensi tekanan harga menjelang akhir 2025.
Penegasan tersebut disampaikan Seno Aji saat menghadiri High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Kamis (18/12/2025).
Menurutnya, dinamika pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) berpotensi mendorong peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi di Kalimantan Timur dalam satu hingga dua tahun ke depan. Kondisi itu diperkirakan akan berimplikasi langsung pada meningkatnya kebutuhan masyarakat.
Baca Juga: Bupati Bekasi Ade Kuswara Kena OTT KPK: Harta yang Dilaporkan Menembus Rp79 M, Punya 32 Bidang Tanah
“Kami mengapresiasi pelaksanaan High Level Meeting ini sebagai upaya bersama untuk mengantisipasi potensi inflasi, terutama menjelang akhir tahun. Tantangan ke depan akan semakin besar seiring perkembangan IKN yang mendorong meningkatnya kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Seno Aji menilai pengendalian inflasi di Kaltim selama ini berjalan cukup baik berkat sinergi lintas sektor. Meski demikian, ia menekankan perlunya pengambilan kebijakan yang semakin berbasis data dan proyeksi.
“Inflasi di Kaltim bisa kita jaga karena kita memiliki data dan proyeksi. Early warning system harus benar-benar dimanfaatkan sebagai dasar dalam pengambilan kebijakan,” tegasnya.
Baca Juga: Kebakaran di Straat 3 Balikpapan, Seorang Bocah 11 Tahun Meninggal
Selain penguatan EWS, ia juga menyoroti aspek distribusi logistik. Ketergantungan Kaltim terhadap pasokan dari luar daerah dinilai masih cukup tinggi dan berisiko memicu lonjakan harga jika terjadi keterlambatan.
“Kita harus memastikan kelancaran distribusi logistik. Tidak boleh ada keterlambatan, karena itu sangat berpengaruh terhadap stabilitas harga di daerah,” pungkasnya. (*)
Editor : Ery Supriyadi