KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Workshop kreatif diprediksi masih punya pasar yang kuat pada 2026. Bukan sekadar ruang mengekspresikan diri, kelas keterampilan praktis seperti baking, craft hingga DIY dinilai tetap diminati karena memberi pengalaman langsung dan hasil yang bisa dipakai.
Tantangan di sektor ini bukan lagi soal minat masyarakat, melainkan bagaimana penyelenggara terus menghadirkan konsep yang segar, relevan dan aplikatif agar peserta tetap tertarik datang.
Founder Faimo Creativa, Fratiwi Abbas, mengatakan permintaan workshop kreatif di Kaltim selama setahun terakhir memang tidak selalu stabil. Ada momen tertentu peserta menurun, namun secara keseluruhan pasarnya tetap berjalan dan belum menunjukkan tanda surut.
“Minat masih ada, cuma peserta sekarang lebih selektif. Mereka biasanya cari kelas yang aplikatif dan bisa langsung dipraktikkan,” ujarnya perempuan yang karib disapa Wiwi tersebut.
Faimo Creativa sejak 2023 aktif menggelar workshop di beberapa daerah di Kaltim yakni Samarinda, Balikpapan dan Sangatta. Namun kini ritme kegiatan lebih padat di dua kota yakni Samarinda dan Balikpapan yang disebut Wiwi sebagai pusat pergerakan pasar kreatif di Kaltim.
“Kalau di Samarinda dan Balikpapan responsnya masih bagus, terutama kalau temanya kuliner,” ucapnya.
Dari catatan internal Faimo, workshop bertema baking dan cooking masih menjadi magnet utama peserta. Selain karena prosesnya bisa langsung dicoba, hasil akhirnya dapat dibawa pulang sebagai produk jadi, hal ini membuat peserta merasa memperoleh nilai tambah yang konkret dari biaya kelas.
“Kelas kuliner biasanya cepat penuh karena hasilnya langsung terlihat. Tapi kelas craft, art, dan DIY juga tetap diminati, apalagi kalau produknya bisa dipakai atau disimpan,” jelas Wiwi.
Tak sedikit peserta yang mengikuti kelas sebagai bentuk hiburan produktif. Namun, ada pula yang menjadikannya langkah awal membangun usaha kecil, terutama di bidang kuliner rumahan dan kerajinan. “Kami sering lihat peserta lanjut bikin jualan kecil-kecilan setelah ikut workshop. Itu yang bikin kelas kreatif punya daya hidup sendiri,” katanya.
Menurut Wiwi, arah industri kelas kreatif di 2026 tidak lagi sekadar soal membuka kelas rutin, melainkan merancang pengalaman belajar yang punya relevansi jangka panjang. Konsep hands-on dan aplikatif menjadi pembeda utama dari sekadar tontonan atau seminar tanpa praktik.
“Kunci bertahannya kelas kreatif itu pengalaman. Peserta mau datang kalau mereka pulang bawa sesuatu, entah keterampilan atau produk jadi,” sebutnya.
Di tengah padatnya aktivitas masyarakat dan makin ketatnya pertimbangan biaya, Faimo melihat konsistensi inovasi materi menjadi penentu apakah kelas kreatif masih akan diminati pada 2026. “Peserta sekarang nggak sekadar cari hobi. Mereka cari manfaat. Selama penyelenggara bisa kasih itu, kelas kreatif akan tetap hidup,” tutupnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo