KALTIMPOST.ID, Awal pekan perdagangan penuh pertama tahun 2026 dibuka dengan sinyal yang membuat pasar keuangan lebih berhati-hati.
Dolar Amerika Serikat (AS) tampil perkasa, sementara mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mulai merasakan tekanan.
Penguatan dolar terjadi di tengah situasi global yang tidak biasa. Meski pergerakan pasar relatif tenang, sentimen risiko meningkat setelah Amerika Serikat melakukan langkah berani terhadap Venezuela, termasuk penangkapan Presiden Nicolas Maduro untuk menghadapi tuduhan perdagangan narkoba di New York.
Mengutip Investing.com, Senin (5/1/2026), dolar AS naik 0,1 persen menjadi USD1,1705 per euro, dan sempat menyentuh USD1,170025, level tertinggi sejak 11 Desember.
Terhadap poundsterling Inggris, dolar juga menguat 0,1 persen ke USD1,34495, serta naik ke 156,90 yen.
Di saat bersamaan, pelaku pasar menahan napas menantikan serangkaian data penting dari Amerika Serikat.
Indikator ekonomi ini diyakini akan memberi arah baru bagi kebijakan suku bunga The Federal Reserve.
Para pedagang saat ini memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga dua kali sepanjang tahun 2026.
Angka ini lebih agresif dibandingkan proyeksi internal dewan Fed yang baru memperkirakan satu kali penurunan.
Ketidakpastian juga datang dari faktor politik. Presiden AS Donald Trump memastikan akan segera menunjuk ketua The Fed yang baru, seiring berakhirnya masa jabatan Jerome Powell pada Mei mendatang.
Trump secara terbuka menyampaikan preferensinya. Ia mengatakan pengganti Powell akan menjadi seseorang yang percaya pada suku bunga yang lebih rendah, secara signifikan.
Dampaknya Mulai Terasa ke Rupiah
Tekanan global tersebut langsung tercermin pada pergerakan rupiah. Konflik AS dan Venezuela dinilai memperburuk sentimen pasar, terutama terhadap aset berisiko.
Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C Permana, memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah.
“Kemungkinan ada depresiasi rupiah ke level Rp 16.750 per dolar AS,” kata Fikri yang dilansir dari Katadata.co.id, Senin (5/1).
Menurutnya, faktor geopolitik bukan satu-satunya pemicu. Dari dalam negeri, pasar juga mencermati rilis data inflasi Desember 2025 oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
“Rilis inflasi indonesia yang kemungkinan ada peningkatan inflasi tahunan,” ujar Fikri.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah dibuka melemah di level Rp 16.730 per dolar AS, turun lima poin atau 0,03 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Kekhawatiran Geopolitik Tekan Aset Berisiko
Pandangan senada disampaikan Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong. Ia menilai respons pasar terhadap penangkapan Presiden Venezuela menjadi faktor kunci pelemahan rupiah.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS setelah penangkapan Presiden Venezuela,” kata Lukman.
Ia menjelaskan bahwa situasi ini memicu kekhawatiran global. “Penangkapan itu memicu kekhawatiran geopolitik. Lalu pada akhirnya akan menekan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.”
Lukman memproyeksikan pergerakan rupiah masih akan fluktuatif dalam kisaran yang cukup lebar.
“Rupiah akan berada di level Rp 16.650 per dolar AS hingga Rp 16.800 per dolar AS,” ujarnya. ***
Editor : Dwi Puspitarini