KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Inflasi di Kaltim sepanjang 2025 terkendali dan tercatat lebih rendah dibandingkan nasional, meski berada di tengah momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kalimantan Timur, Budi Widihartanto, menyampaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) Kaltim pada Desember 2025 mengalami inflasi sebesar 0,71 persen secara bulanan (mtm) dan 2,68 persen secara tahunan (yoy).
“Meski meningkat, realisasi inflasi Kaltim secara tahunan (yoy) tercatat masih lebih rendah dibandingkan dengan realisasi Nasional yang mengalami inflasi sebesar 2,92 persen (yoy),” jelas Budi.
Secara bulanan, tekanan inflasi Desember 2025 tercatat lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,41 persen (mtm). Kenaikan ini terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil inflasi sebesar 0,47 persen (mtm).
“Inflasi pada kelompok ini utamanya disebabkan oleh keterbatasan pasokan komoditas perikanan dan sayuran akibat faktor curah hujan dan gelombang yang tinggi, serta peningkatan permintaan menjelang HBKN Nataru,” ujarnya.
Kelompok transportasi turut menyumbang tekanan inflasi dengan andil sebesar 0,21 persen (mtm), seiring meningkatnya mobilitas masyarakat dan permintaan jasa transportasi selama libur akhir tahun. Sementara itu, tekanan inflasi tertahan oleh deflasi pada kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,01 persen (mtm).
Untuk menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat langkah pengendalian melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). “Pada bulan Desember tercatat telah dilakukan kurang lebih 24 kali Gerakan Pangan Murah (GPM) dan penyaluran beras SPHP dalam rangka HBKN dan Nataru,” kata Budi.
Selain intervensi pasar, koordinasi antarpemangku kepentingan diperkuat melalui rapat teknis dan High Level Meeting (HLM). “Rangkaian HLM tersebut menjadi forum strategis untuk memperkuat sinergi kebijakan antarpemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas harga, mengantisipasi risiko inflasi, serta memperkuat ketahanan ekonomi daerah di Kaltim,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo