Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Inflasi Balikpapan di Akhir 2025 Menguat ke 2,71 Persen yoy, Ini Penyebabnya

Ulil Mu'Awanah • Selasa, 6 Januari 2026 | 20:05 WIB
TEKANAN:  Meningkatnya harga dari kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau serta sektor transportasi membuat inflasi di Balikpapan naik di pengujung 2025.
TEKANAN:  Meningkatnya harga dari kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau serta sektor transportasi membuat inflasi di Balikpapan naik di pengujung 2025.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Laju inflasi di Balikpapan pada akhir 2025 menunjukkan penguatan dibandingkan tahun sebelumnya. Inflasi year on year (yoy) pada Desember 2025 sebesar 2,71 persen, naik signifikan dibandingkan Desember 2024 yang berada di level 1,11 persen.

Meningkatnya tekanan harga, terutama dari kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau serta sektor transportasi. Secara umum pergerakan harga sepanjang 2025 cenderung mengalami tren naik yang stabil, dengan akselerasi inflasi terjadi pada semester kedua tahun ini.

“Pada Desember 2025 terjadi inflasi year-on-year sebesar 2,71 persen, yang menunjukkan adanya kenaikan Indeks Harga Konsumen dari 107,16 pada Desember 2024 menjadi 110,06 pada Desember 2025,” beber Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama.

Selain inflasi tahunan, BPS juga mencatat inflasi month to month (mtm) pada Desember 2025 sebesar 0,71 persen. Angka ini menunjukkan adanya kenaikan harga dibandingkan November 2025, yang umumnya dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan menjelang akhir tahun dan libur panjang.

Grafis perkembangan inflasi year-on-year Kota Balikpapan sepanjang Januari 2023 hingga Desember 2025 memperlihatkan fluktuasi yang cukup dinamis. Pada 2023, inflasi yoy sempat berada di atas 5 persen pada awal tahun sebelum melandai hingga kisaran 3,6 persen di akhir tahun.

Sementara pada 2024, inflasi relatif lebih rendah dan stabil di bawah 2 persen. Memasuki 2025, kurva inflasi kembali menanjak secara bertahap, dari sekitar 0,36 persen pada Januari, meningkat perlahan hingga mencapai puncaknya di Desember sebesar 2,71 persen.

Marinda menyebutkan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi yoy. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 4,58 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 1,44 persen. Komoditas yang dominan mendorong inflasi antara lain beras, ikan layang atau ikan benggol, minyak goreng, cabai rawit, serta rokok kretek mesin.

“Komoditas pangan masih menjadi faktor utama pembentuk inflasi, terutama beras dan komoditas ikan segar yang sangat dipengaruhi oleh kondisi pasokan dan cuaca,” jelas Marinda.

Selain pangan, sektor transportasi juga memberikan tekanan cukup kuat dengan inflasi yoy sebesar 3,30 persen dan andil inflasi 0,45 persen. Kenaikan tarif angkutan udara dan peningkatan harga bahan bakar turut mendorong kenaikan indeks kelompok ini.

Di sisi lain, tidak semua kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga. Kelompok pakaian dan alas kaki tercatat mengalami deflasi yoy sebesar 3,34 persen, disusul kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang juga mengalami penurunan indeks sebesar 0,48 persen.

“Adanya deflasi pada beberapa kelompok menunjukkan bahwa tekanan inflasi masih bersifat terkendali dan tidak merata di seluruh sektor,” kata Marinda. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#kenaikan harga #harga #2025 #makanan #minuman #inflasi #balikpapan