KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Kabupaten Penajam Paser Utara atau PPU mencatatkan performa ekonomi yang solid pada pengujung tahun 2025 dengan inflasi yang terjaga di angka 2,08 persen secara tahunan. Capaian ini secara signifikan lebih rendah dibandingkan angka inflasi nasional dan rata-rata Kalimantan Timur.
Kondisi ekonomi yang stabil ini berbanding lurus dengan tingkat keyakinan konsumen yang tetap berada di level optimis, tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen sebesar 122,7. Meskipun angka ini sedikit turun dari bulan sebelumnya, masyarakat tetap percaya pada prospek ekonomi dalam enam bulan ke depan.
Daya beli masyarakat di wilayah ini juga terlihat sangat kuat yang dikonfirmasi melalui adopsi teknologi pembayaran digital. "Jumlah transaksi menggunakan QRIS di Kabupaten Penajam Paser Utara pada November 2025 tumbuh pesat hingga 70,62 persen secara tahunan," ungkap Robi Ariadi, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan.
Tren serupa juga terjadi d Balikpapan dengan pertumbuhan mencapai 100,85 persen. Aktivitas ekonomi yang meningkat ini menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan harga pada komoditas tertentu, konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor penggerak utama ekonomi daerah.
Robi menekankan pentingnya menjaga optimisme ini dengan memastikan stabilitas harga tetap terkendali. Ia menjelaskan bahwa tingkat keyakinan konsumen yang kuat merupakan aset penting bagi pertumbuhan ekonomi wilayah.
"Optimisme konsumen tersebut menunjukkan masih tetap kuatnya tingkat keyakinan konsumen saat ini dan ekspektasi masyarakat terhadap prospek ekonomi enam bulan ke depan, baik yang terkait kegiatan usaha, penghasilan, maupun ketersediaan lapangan kerja," ujarnya.
Untuk mendukung keberlanjutan ekonomi yang stabil, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan bersama pemerintah daerah telah menyiapkan serangkaian langkah mitigasi. Strategi yang dijalankan mencakup pemantauan harga secara berkala, operasi pasar murah hingga tingkat kelurahan, serta penguatan kerja sama antar daerah untuk menjamin ketersediaan stok pangan.
"Sinergi ini diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah tantangan ekonomi global maupun domestik pada tahun-tahun mendatang, terutama menyongsong periode Ramadan dan Idul Fitri tahun 2026," tutupnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo