KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Pada Desember 2025, tekanan inflasi di Balikpapan didominasi oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil mencapai 0,37 persen.
Fenomena ini dipicu oleh perpaduan antara peningkatan permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional Natal dan Tahun Baru serta gangguan pasokan akibat faktor cuaca ekstrem di berbagai daerah sentra produksi.
"Lima komoditas utama yang menjadi motor penggerak inflasi di Balikpapan antara lain angkutan udara, cabai rawit, ikan layang, bawang merah, dan daging ayam ras," beber Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi.
Ia juga menyoroti bahwa faktor musiman dan cuaca menjadi tantangan berat dalam menjaga stabilitas harga pangan. Kenaikan harga cabai rawit dan bawang merah secara khusus disebabkan oleh minimnya pasokan dari luar daerah seperti Jawa dan Sulawesi akibat tingginya curah hujan yang merusak hasil panen.
Sementara itu, untuk komoditas perikanan seperti ikan layang, kenaikan harga dipicu oleh terbatasnya aktivitas nelayan karena gelombang laut yang sedang tinggi.
"Ke depan, kami mencermati beberapa risiko yang akan memengaruhi tekanan inflasi di antaranya prakiraan musim hujan yang akan memasuki puncaknya pada akhir tahun 2025 dan awal tahun 2026 disertai gelombang laut yang tinggi, serta risiko banjir di beberapa wilayah maupun di sejumlah daerah sentra produksi," ulasnya.
Kondisi ini akan menjadi tantangan bagi pemenuhan pasokan komoditas pertanian ke depan, sehingga berisiko dapat memengaruhi ketersediaan pasokan produk pertanian, khususnya untuk komoditas hortikultura dan perikanan.
Selain faktor alam, kenaikan tarif angkutan udara juga memberikan dampak signifikan terhadap inflasi di Balikpapan. Hal ini sejalan dengan tingginya mobilitas masyarakat yang melakukan perjalanan untuk libur akhir tahun, terutama pada rute populer seperti Balikpapan ke Surabaya dan Balikpapan ke Makassar.
"Di sisi lain, penurunan harga pada beberapa jenis sayuran seperti kacang panjang dan buncis karena melimpahnya pasokan lokal sedikit memberikan napas lega bagi konsumen dan membantu menahan laju inflasi agar tidak melonjak lebih tinggi lagi di akhir tahun," tuturnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo