KALTIMPOST.ID-Euforia pergantian tahun yang biasanya menjadi penopang utama tingkat hunian hotel di Balikpapan tidak sepenuhnya terjadi pada akhir 2025.
Data tingkat hunian menunjukkan sinyal kehati-hatian industri perhotelan saat memasuki 2026.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Balikpapan Soegianto menyampaikan tingkat hunian hotel secara keseluruhan pada Desember 2025 hanya berada di angka 53 persen.
Capaian tersebut dinilai masih jauh dari ekspektasi, mengingat Desember selama ini identik dengan lonjakan tamu akibat libur panjang dan perayaan tahun baru.
“Kalau dilihat secara rata-rata, okupansi hotel di Balikpapan pada Desember lalu hanya sekitar 53 persen. Ada memang beberapa hotel yang penuh di hari-hari tertentu, tetapi secara umum kondisinya masih rendah,” kata Soegianto.
Ia menjelaskan, rendahnya hunian tidak terjadi secara merata. Beberapa hotel dengan segmen pasar tertentu atau strategi promosi agresif masih mampu mencatatkan tingkat hunian tinggi.
Namun, sebagian besar hotel lainnya menghadapi kamar kosong, bahkan di momen puncak liburan.
Situasi itu diperparah oleh pola kunjungan yang semakin singkat. Sejumlah agenda kegiatan yang digelar di Balikpapan belakangan hanya berlangsung satu hari tanpa menginap.
“Banyak kegiatan datang pagi, selesai sore atau malam, lalu langsung kembali. Ini tidak memberikan dampak signifikan bagi okupansi hotel,” ujarnya.
Soegianto menilai, tahun ini industri perhotelan harus bersiap menghadapi tantangan yang lebih struktural.
Penurunan kegiatan MICE serta kebijakan efisiensi anggaran pemerintah diperkirakan masih berlanjut dan menekan permintaan kamar hotel, khususnya pada hari kerja.
“Kondisi ini memaksa hotel untuk lebih adaptif. Tidak bisa lagi hanya mengandalkan pasar lama. Harus ada terobosan agar tetap bertahan,” tutur Soegianto. (rd)
Editor : Romdani.