KALTIMPOST.ID, Ketidakpastian global kembali mendorong emas ke panggung utama. Di tengah memanasnya konflik geopolitik dan tekanan ekonomi internasional, logam mulia kembali dipilih sebagai aset aman oleh investor hingga bank sentral dunia.
Bahkan harga logam mulia diramalkan bisa menembus level hingga Rp 2,82 juta per gram.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai potensi kenaikan harga emas masih terbuka lebar dalam waktu dekat.
Menurutnya, kondisi global yang penuh risiko membuat emas kembali menjadi pelindung nilai yang paling dicari.
Baca Juga: Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Senin 19 Januari 2026: Raja Emas Indonesia dan Lakuemas Stagnan
“Ada kemungkinan besar harga logam mulia itu di Rp2.820.000 per gram jika menembus level resistance kedua,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (18/1/2026).
Ia menjelaskan, harga emas dunia tercatat US$ 4.595 per troy ons pada penutupan perdagangan terakhir.
Sementara itu, harga logam mulia di dalam negeri berada di kisaran Rp 2,68 juta per gram. Pergerakan selanjutnya, kata Ibrahim, sangat bergantung pada dinamika global yang masih panas.
Jika tekanan global terus meningkat dan harga emas dunia menguat, Ibrahim memperkirakan emas bisa menembus US$ 4.655 per troy ons dan mendorong harga logam mulia domestik mendekati Rp 2,7 juta per gram.
Bahkan, dalam skenario lanjutan, harga emas dunia di level US$ 4.706 per troy ons, harga logam mulia berpeluang bisa menyentuh Rp 2,82 juta per gram.
Namun, ia juga mengingatkan adanya risiko koreksi apabila sentimen pasar berubah.
Dalam skenario penurunan, harga emas dunia berpotensi turun ke kisaran US$ 4.553 hingga US$ 4.489 per troy ons, dengan harga logam mulia domestik berada di rentang Rp 2,56 juta–Rp 2,63 juta per gram.
Menurut Ibrahim, fluktuasi harga emas saat ini bukan tanpa sebab. Salah satu pemicunya adalah ketegangan perang dagang antara Uni Eropa dan China.
Baca Juga: Sulit Dipalsukan, Ini Fitur Keamanan Emas Imlek Year of the Horse ANTAM yang Baru Rilis
Kebijakan tarif impor yang tinggi produk alumina dari China sebesar 88,7% hingga 110,6%. China diprediksi akan melakukan balasan serupa pekan depan dinilai berpotensi memicu aksi balasan dan memperbesar ketidakpastian ekonomi global.
Di sisi lain, kondisi geopolitik Timur Tengah juga menambah tekanan pasar. Situasi di Iran yang semakin mencekam, ditambah kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan tersebut, membuat investor cenderung menghindari aset berisiko.
Tak kalah penting, aksi bank sentral global yang mulai memborong emas turut memperkuat tren kenaikan harga.
“Bank sentral China, India, Amerika Latin, hingga negara-negara ASEAN berlomba-lomba membeli logam mulia. Mereka menilai kondisi global sudah gawat,” jelas Ibrahim.
Baca Juga: Viral! Respons Bahlil Lahadalia saat Dijadikan Meme, Tertawa dan Ikut Joget
Selain faktor global, pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi pendorong kenaikan harga emas di dalam negeri.
“Pelemahan mata uang rupiah membuat harga logam mulia terus mengalami kenaikan,” pungkasnya.
Dengan kombinasi tekanan geopolitik, kebijakan ekonomi global, dan pergerakan mata uang, emas kembali menegaskan perannya sebagai aset pelindung di tengah dunia yang belum stabil.***
Editor : Dwi Puspitarini