Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Harga Emas Meroket Ketika Dunia Bergejolak, Saatnya Masuk Berinvestasi?

Thomas Dwi Priyandoko • Rabu, 21 Januari 2026 | 14:44 WIB

Ilustrasi inflasi harga emas.
Ilustrasi inflasi harga emas.

KALTIMPOST.ID-Harga emas dunia terus mencetak rekor baru seiring meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Logam mulia ini bahkan melampaui puncak harga yang telah disesuaikan dengan inflasi sejak 1980.

Lonjakan harga emas dipicu berbagai faktor, mulai dari perang dagang Presiden Amerika Serikat Donald Trump, tekanan terhadap independensi Federal Reserve (The Fed), meningkatnya ketegangan geopolitik, hingga kekhawatiran terhadap lonjakan utang pemerintah di berbagai negara.

Bank-bank sentral pun turut memperkuat tren ini dengan terus menambah cadangan emas mereka.

Baca Juga: Emas Digital Jadi Primadona Investasi, Perdagangan di Bursa Berjangka Terus Meningkat

Pada Januari 2026, harga spot emas menembus level di atas US$ 4.700 per ons, menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Kenaikan ini semakin tajam setelah muncul kekhawatiran perang tarif antara Amerika Serikat dan Eropa, menyusul pernyataan Trump terkait ambisi mengambil alih Greenland.

Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai (safe heaven) yang kuat. Pasarnya sangat likuid dengan nilai transaksi harian mencapai ratusan miliar dolar AS, sehingga investor besar dapat keluar masuk tanpa mengganggu harga secara signifikan.

Selain itu, emas tidak memiliki risiko pihak lawan (counterparty), berbeda dengan saham atau obligasi yang bergantung pada kinerja penerbitnya.

Secara historis, pergerakan emas juga berkorelasi negatif dengan dolar AS. Ketika nilai dolar melemah, harga emas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain, membuat permintaannya meningkat.

Kondisi ini menjadikan emas sebagai instrumen pelindung nilai yang efektif di tengah volatilitas mata uang.

Aliran dana investor juga terlihat deras masuk ke exchange-traded fund (ETF) berbasis emas, meski kepemilikannya masih belum menyamai puncak saat pandemi.

Baca Juga: Rekor Baru Harga Emas Antam 21 Januari 2026: Tembus Rp2,77 Juta per Gram

Di sisi lain, membengkaknya utang pemerintah global membuat sebagian investor meragukan stabilitas mata uang dan obligasi negara, sehingga beralih ke emas, perak, dan logam mulia lainnya.

Selain investor, permintaan emas juga didorong faktor budaya, terutama di India dan China. Di dua negara tersebut, emas telah lama menjadi simbol kemakmuran dan keamanan.

Rumah tangga di India bahkan diperkirakan menyimpan sekitar 25.000 metrik ton emas, jauh melebihi cadangan emas Amerika Serikat di Fort Knox.

Namun, permintaan emas untuk perhiasan cenderung sensitif terhadap harga. Saat harga melonjak tinggi, minat beli perhiasan melemah.

Meski demikian, pembeli biasanya kembali masuk ketika harga terkoreksi, sehingga membantu menahan penurunan harga emas.

Baca Juga: Harga Emas UBS dan Galeri24 Hari Ini, Rabu 21 Januari 2026: Pegadaian Catat Kenaikan Signifikan

Dari sisi kebijakan, pembelian besar-besaran bank sentral menjadi pendorong utama reli emas sejak 2024, terutama di negara berkembang yang ingin mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Tren ini semakin kuat setelah pembekuan aset Rusia pasca-invasi ke Ukraina, yang menegaskan risiko penyimpanan cadangan devisa dalam mata uang asing.

Meski demikian, reli emas berpotensi terhenti jika dolar AS menguat, ketegangan geopolitik mereda, atau terjadi kesepakatan damai Rusia–Ukraina.

Penurunan pembelian emas oleh bank sentral juga dapat mengurangi tekanan naik pada harga.

Sebagai aset fisik, emas tetap memiliki tantangan. Investor harus menanggung biaya penyimpanan, keamanan, dan asuransi.

Perbedaan standar ukuran emas antarwilayah juga dapat menimbulkan hambatan distribusi, terutama saat terjadi lonjakan permintaan.

Meski begitu, di tengah ketidakpastian global yang belum mereda, emas masih dipandang sebagai pilihan aman bagi investor untuk menjaga nilai kekayaan mereka.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
#harga emas #emas