Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Swasta Mulai Bergerak, Promosi Pariwisata Balikpapan Sasar Pasar Global

Ulil Mu'Awanah • Jumat, 23 Januari 2026 | 19:47 WIB
GALI INFORMASI: Ketua PHRI Balikpapan Soegianto saat berada di Penang. Dia menilai destinasi di sana sederhana namun dikemas menarik sehingga wisatawan tetap antusias berkunjung.
GALI INFORMASI: Ketua PHRI Balikpapan Soegianto saat berada di Penang. Dia menilai destinasi di sana sederhana namun dikemas menarik sehingga wisatawan tetap antusias berkunjung.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Di tengah keterbatasan promosi pariwisata Balikpapan, inisiatif dari sektor swasta mulai muncul sebagai upaya menembus pasar internasional.

Sejumlah pelaku usaha perhotelan dan pariwisata memilih bergerak mandiri untuk memperkenalkan Balikpapan ke dunia global tanpa menunggu kepastian program bersama pemerintah.

Sebagai salah satu pelaku usaha yang mengambil langkah agresif dalam promosi, tahun ini Platinum Group berencana mengikuti sejumlah agenda business matching internasional di Malaysia dan Jerman, bahkan membuka peluang promosi ke pasar Tiongkok.

“Platinum secara grup sendiri memang sudah merencanakan promosi ke Malaysia dan juga Berlin, Jerman. Kita akan kirim staf untuk ikut business matching di sana,” tutur Soegianto, Ketua PHRI Balikpapan, kemarin (23/1).

Acara di Malaysia dan pameran pariwisata di Jerman dikenal sebagai ajang besar yang diikuti pelaku industri pariwisata dari berbagai negara. Menurut Soegianto, keikutsertaan dalam forum seperti ini penting untuk memperluas jejaring dan membuka peluang masuknya wisatawan mancanegara ke Balikpapan.

Ia menilai langkah mandiri ini menjadi strategi bertahan di tengah situasi yang tidak pasti. Dalam kondisi promosi bersama yang belum berjalan, pelaku usaha tidak bisa hanya menunggu. Pasar harus tetap digarap agar bisnis perhotelan dan pariwisata tetap hidup.

“Namanya perusahaan, kita jualan. Kalau dalam kondisi seperti ini kita tidak bergerak sendiri, tidak mungkin kita dapat market,” katanya.

Selain Malaysia dan Jerman, pasar Tiongkok juga dilirik. Soegianto melihat wisatawan Asia khususnya Tiongkok memiliki potensi besar seperti yang selama ini terjadi di destinasi utama Indonesia seperti Jakarta, Surabaya dan Bali. Balikpapan dinilai memiliki peluang yang sama jika dikemas dan dipromosikan dengan tepat.

Pengalamannya melihat langsung kondisi di Penang, Malaysia, memperkuat pandangan tersebut. Ia menyebut banyaknya ekspatriat, termasuk dari Tiongkok yang datang dan beraktivitas di sana meskipun destinasi yang ditawarkan tidak selalu mewah.

“Contohnya di Penang, tempatnya sebenarnya sederhana, tapi karena dikemas dengan baik, orang datang. Banyak ekspat, banyak orang Tiongkok. Itu yang harus kita pelajari,” ujarnya.

Langkah swasta yang mulai agresif ini diharapkan bisa menjadi pemantik bagi kolaborasi yang lebih kuat ke depan. Soegianto menegaskan bahwa promosi pariwisata idealnya tetap dilakukan bersama antara pemerintah dan pelaku usaha. Namun, selama kondisi belum memungkinkan, inisiatif mandiri menjadi jalan agar Balikpapan tetap hadir di peta pariwisata global.

Menurut Soegianto, kunci menarik wisatawan tidak selalu terletak pada pembangunan destinasi megah, melainkan pada pengemasan dan suasana. Tempat wisata sederhana pun bisa menarik jika didukung fasilitas pendukung seperti akses jalan yang baik, area suvenir dan suasana yang hidup.

Ia mencontohkan kawasan wisata mangrove di Balikpapan yang memiliki potensi besar jika dikembangkan lebih serius. Kehadiran tenant suvenir, kuliner dan aktivitas pendukung diyakini bisa meningkatkan daya tarik dan lama tinggal wisatawan.

“Orang datang itu bukan hanya lihat-lihat, tapi ada yang bisa dinikmati, ada yang bisa dibeli. Jadi suasananya hidup. Itu yang bikin orang tertarik datang,” katanya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#perhotelan #promosi pariwisata #Soegianto #Dunia global #pelaku usaha #pariwisata #balikpapan