KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Pandemi Covid-19 menjadi ujian terberat bagi usaha Abdul Azis. Aktivitas pesta berhenti, acara formal dibatasi, dan permintaan busana pesta anjlok drastis. Namun kondisi itu justru memaksanya menemukan strategi baru agar usaha tetap bertahan.
Azis melihat celah pada kebutuhan busana pengantin sederhana. “Saya pikir enggak mungkin selama Covid-19 enggak ada orang menikah,” ujarnya. Dia mulai menggarap busana pengantin untuk acara kecil dan intim di rumah. Langkah itu cukup menjaga roda usaha tetap berputar di masa krisis.
Momentum baru datang ketika kebijakan penggunaan batik di lingkungan pemerintahan semakin masif. Pelanggan yang sebelumnya memesan gaun pesta mulai datang membawa kain batik. Dari situ, Azis melihat peluang lebih besar. “Saya pikir, kenapa enggak bikin batik sendiri?” katanya.
Bermodal kemampuan desain, dia mulai menciptakan motif khas Kalimantan. Produksi dilakukan bekerja sama dengan perajin di Yogyakarta. Motif dirancang di Samarinda, sementara proses cap dan tulis dikerjakan di Kota Pelajar.
Motif batik Borneo Batik mengangkat kekayaan lokal, mulai dari pesut Mahakam, burung enggang, terumbu karang, hingga sawit. Motif-motif itu diberi nama seperti Pesona Mahakam dan Pesona Bumi Etam. Bagi Azis, batik bukan sekadar kain, melainkan identitas daerah.
Pemasaran batik terjadi secara organik. Seorang ibu pejabat membawa beberapa lembar kain batik milik Azis ke acara arisan. Responsnya di luar dugaan. “Jadi rebutan ternyata, ditanya ada lagi enggak,” katanya. Sejak itu, pesanan berdatangan, termasuk permintaan seragam instansi.
Azis menerapkan prinsip ketat soal eksklusivitas. Satu motif hanya untuk satu klien. “Kalau sudah jadi hak orang itu, saya tidak akan membuatnya lagi,” tegasnya. Bahkan jika ada permintaan tambahan dari pihak lain, dia menolak tanpa persetujuan klien awal.
Prinsip itu pula yang membuatnya berhati-hati di media sosial. Dia tidak aktif memamerkan motif. “Saya takut ditiru,” ujarnya, mengingat pengalamannya pernah menjadi korban penjiplakan desain. Penjualan lebih banyak mengandalkan pelanggan loyal dan rekomendasi personal.
Soal harga, Azis memilih jalur moderat. Batik cap dijual mulai Rp275 ribu, sedangkan cap tulis Rp375 ribu. “Saya pengin batik Kalimantan ini bisa dipakai semua kalangan,” katanya. Dia ingin batik daerah tak hanya identik dengan acara resmi.
Ke depan, Azis menyiapkan langkah lanjutan. Dia telah membeli lahan untuk workshop batik di Samarinda dan berencana mengembangkan konsep UMKM hijau dengan pewarna alami. “Saya pengin workshop yang ramah lingkungan, ada standarnya,” ujarnya.
Meski saat ini masih fokus pasar lokal, mimpi menembus pasar internasional tetap ada. Bagi Azis, konsistensi dan kejujuran pada proses adalah kunci. “Kalau kerja dari hati, insyaallah hasilnya memuaskan,” katanya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo