KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Tekanan inflasi di Kalimantan Timur hingga akhir 2025 masih berada dalam rentang sasaran nasional. Bank Indonesia mencatat inflasi Kaltim secara tahunan tetap terjaga, meski sejumlah kelompok komoditas, terutama pangan, memerlukan kewaspadaan lebih lanjut.
Berdasarkan data Bank Indonesia, inflasi Kaltim secara umum tercatat 2,68 persen (yoy). Angka tersebut masih berada dalam rentang target inflasi nasional. Kontributor utama inflasi berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan laju inflasi 4,72 persen dan andil 1,40 persen.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kalimantan Timur Budi Widihartanto menyampaikan, meski inflasi terjaga, dinamika harga pada kelompok pangan perlu terus dicermati karena memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi daerah.
"Emas perhiasan, beras, ikan layang masih mendominasi tekanan inflasi Kaltim hingga Desember 2025. Kondisi ketidakpastian ekonomi global serta kondisi cuaca yang kurang kondusif menjadikan 3 komoditas ini sebagai pemegang andil inflasi tertinggi secara nasional. Meski demikian hingga November 2025, tekanan inflasi nasional masih berada dalam range sasaran inflasi yakni 2,5 persen ± 1 persen," jelasnya.
Selain kelompok pangan, kelompok transportasi juga mencatat inflasi 1,79 persen dengan andil 0,24 persen, seiring meningkatnya mobilitas masyarakat. Sementara itu, kelompok pendidikan mencatat inflasi 2,80 persen dengan andil 0,12 persen, dipengaruhi penyesuaian biaya pendidikan.
Di sisi lain, sejumlah kelompok justru mengalami deflasi. Kelompok pakaian dan alas kaki mencatat deflasi 1,43 persen, diikuti kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga yang mengalami deflasi 1,23 persen. Deflasi juga terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga.
Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan turut mencatat deflasi 0,32 persen. Mencerminkan masih terjaganya tekanan harga di sektor nonpangan, didukung oleh stabilitas pasokan dan persaingan usaha.
Budi menegaskan, pengendalian inflasi daerah akan terus diperkuat melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), terutama dalam menjaga stabilitas harga pangan dan kelancaran distribusi di seluruh wilayah Kaltim. (*)
Editor : Sukri Sikki