KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Aroma beras yang baru dibuka dari karung sering kali membawa Yandy Mulia Wijaya kembali pada ingatan masa kecilnya.
Di antara hiruk pikuk pasar dan tumpukan karung beras, ia tumbuh menyaksikan langsung bagaimana ayahnya Hendra Wijaya merintis usaha dari nol, penuh jatuh bangun namun tak pernah kehilangan keyakinan.
Lahir di Balikpapan, 9 April 1987, Yandy dipercaya keluaranya menjabat sebagai Direktur PT Agrindo Mulia Wijaya. Perusahaan yang menaungi brand beras Tiga Mangga Manalagi, salah satu produk beras premium di Kalimantan Timur.
“Usaha ini sebenarnya sudah dimulai dari papa. Pernah coba pakan ternak, pemotongan ayam, sampai akhirnya fokus ke beras,” beber Yandy.
Perjalanan itu tidak selalu mulus. Krisis ekonomi di akhir 1990-an menjadi salah satu ujian berat. Namun justru dari situ, keluarga Yandy memutuskan untuk lebih serius mengembangkan usaha beras.
“Waktu itu di Balikpapan yang paling banyak dicari beras merek tertentu. Dari situ kami coba masuk, sambil belajar kualitas seperti apa yang diinginkan pasar,” katanya.
Nama Tiga Mangga Manalagi bukan dipilih tanpa makna. Yandy menyebut, filosofi angka tiga melambangkan tiga bersaudara laki-laki dalam keluarganya. “Karena papa tiga saudara, jadi tiga mangga itu simbol kebersamaan dan usaha keluarga,” jelasnya.
Kini, Tiga Mangga Manalagi tidak berdiri sendiri. Di bawah PT Agrindo Mulia Wijaya, terdapat sekitar 15 merek untuk berbagai kebutuhan bahan pokok, mulai tepung terigu, minyak goreng, gula, kedelai, hingga bahan kue.
“Kami ingin masyarakat punya banyak pilihan. Tidak semua harus beli yang premium. Ada medium, ada yang broken-nya lebih tinggi, harganya lebih terjangkau,” tutur Yandy.
Produksi beras Tiga Mangga Manalagi saat ini bisa mencapai 1.000 hingga 2.000 karung per hari, bahkan menembus 3.000 karung saat mendekati Ramadan. Distribusinya pun meluas, dari Balikpapan, Samarinda, Penajam Paser Utara, hingga Grogot dan Batu Kajang.
Bagi Yandy, keberhasilan bukan sekadar soal angka penjualan. Lebih dari itu, ia ingin menjaga kepercayaan konsumen. “Kualitas itu yang paling utama. Kita kerja sama dengan pabrik yang speknya sesuai dengan yang kita mau. Jadi sampai sekarang kualitas tetap terjaga,” katanya.
Di balik kesibukannya, Yandy adalah suami dari Novly Dewi dan ayah dari satu orang anak. Ia berharap, kelak anaknya dapat memahami bahwa usaha besar selalu dimulai dari langkah kecil. “Kalau kita konsisten dan sabar, hasilnya pasti ada. Prosesnya memang panjang, tapi itu yang membentuk kita,” ucapnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo