Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Harga Emas Cetak Rekor, Pakar Nilai Dipicu Ketidakpastian Ekonomi Global

Raden Roro Mira Budi Asih • Minggu, 1 Februari 2026 | 15:41 WIB
PANTAUAN: Pakar investasi Universitas Mulawarman (Unmul), Musdalifah Azis menilai lonjakan harga emas tidak dapat dilepaskan dari kondisi ekonomi global yang sarat ketidakpastian.
PANTAUAN: Pakar investasi Universitas Mulawarman (Unmul), Musdalifah Azis menilai lonjakan harga emas tidak dapat dilepaskan dari kondisi ekonomi global yang sarat ketidakpastian.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kenaikan harga emas yang terus mencetak rekor belakangan ini menjadi sorotan publik. Di pasar domestik, harga emas batangan tercatat berada pada level tertinggi sepanjang sejarah, seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap aset lindung nilai.

Pakar investasi Universitas Mulawarman (Unmul), Musdalifah Azis, menilai lonjakan harga emas tidak dapat dilepaskan dari kondisi ekonomi global yang sarat ketidakpastian. Faktor geopolitik, kebijakan global, hingga tekanan inflasi menjadi pemicu utama pergerakan harga emas baik di pasar internasional maupun domestik.

“Memang harga emas di Indonesia saat ini berada pada level yang tergolong tinggi, emas batangan Antam menyentuh kisaran Rp3 juta per gram,” ujar dosen pengampu mata kuliah Manajemen Keuangan dan Investasi S-3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unmul itu.

Dia menjelaskan, ketidakpastian ekonomi global mendorong pelaku pasar untuk mencari aset yang mampu menjaga nilai kekayaan. Dalam kondisi tersebut, emas kembali diposisikan sebagai instrumen perlindungan nilai yang dianggap relatif aman dibandingkan aset berisiko.

“Faktor pendorongnya karena adanya ketidakpastian ekonomi yang terjadi, terutama dari faktor global, seperti ketidakpastian geopolitik dan ekspektasi inflasi dunia,” jelasnya.

Musdalifah menilai, fenomena tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arah perekonomian global. Ketika tekanan global membesar, pelaku pasar cenderung mengalihkan asetnya ke instrumen yang dinilai lebih stabil. “Mulai menjadikan emas ini supaya nilainya tetap terlindungi, istilahnya safe haven asset,” sebutnya.

Namun demikian, dia mengingatkan bahwa emas bukanlah instrumen yang sepenuhnya bebas risiko. Pergerakan harga emas tetap dipengaruhi oleh dinamika ekonomi dan sentimen pasar, sehingga fluktuasi tetap dapat terjadi.

“Safe haven itu bukan berarti tanpa risiko. Harga emas tetap bisa bersentuhan, bisa naik terus, bisa tiba-tiba turun,” tegas Musdalifah.

Menurutnya, peran emas akan lebih optimal jika ditempatkan sebagai aset pelindung nilai dalam jangka menengah hingga panjang. Emas tidak dirancang untuk menjadi instrumen spekulasi jangka pendek yang mengandalkan pergerakan harga harian.

Dalam situasi ketidakpastian global yang masih berlangsung, Musdalifah menilai tren kenaikan harga emas mencerminkan kehati-hatian pasar. Masyarakat dan investor cenderung mencari instrumen yang mampu menjaga nilai kekayaan mereka di tengah gejolak ekonomi yang belum mereda. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#pakar #cetak rekor #harga emas #kenaikan #Musdalifah Azis #ekonomi global