Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Transisi Hijau Digadang-gadang Jadi Poros Baru Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia, Ini Alasannya

Ulil Mu'Awanah • Minggu, 1 Februari 2026 | 19:26 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Stabilitas ekonomi nasional yang terjaga dalam beberapa tahun terakhir mulai diarahkan pemerintah untuk menopang agenda yang lebih besar, yakni transformasi menuju ekonomi hijau.

Tidak lagi sekadar mengejar pertumbuhan angka, arah kebijakan kini menempatkan kualitas pertumbuhan sebagai prioritas, terutama melalui penguatan sektor green energy dan penciptaan green jobs.

Dalam kunjungannya ke Balikpapan belum lama ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa Indonesia menargetkan bauran energi baru terbarukan mendekati 32 persen pada 2030 secara mandiri.

Target ini menjadi bagian dari tiga pilar utama transformasi ekonomi, yakni green energy, green economy, dan green jobs. “Ambisi tersebut tentu membutuhkan ekonomi makro yang kokoh agar transformasi berjalan berkelanjutan,” kata Airlangga.

Ia menjelaskan, laporan kuartal ketiga menunjukkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,4 persen secara year on year. Bahkan, selama tujuh tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi nasional konsisten berada di kisaran 5 persen.

Dengan kinerja tersebut, Indonesia dinilai memiliki fondasi kuat untuk melakukan lompatan menuju struktur ekonomi yang lebih ramah lingkungan. Dari sisi stabilitas harga, inflasi tercatat tetap terjaga di level 2,92 persen secara year on year.

Kondisi ini memberikan ruang bagi dunia usaha dan masyarakat untuk beradaptasi dengan kebijakan transisi tanpa tekanan yang berlebihan. Kepercayaan investor juga tercermin dari kinerja pasar modal yang sempat menembus level di atas 9.000.

Sektor manufaktur turut menunjukkan sinyal positif. Purchasing Manager Index berada di level ekspansif 51,2, menandakan adanya optimisme para manajer industri terhadap prospek produksi dan permintaan.

Sementara itu, Indeks Keyakinan Konsumen tercatat di angka 123, jauh di atas baseline 100, yang menunjukkan daya beli masyarakat masih kuat.

"Kombinasi antara pertumbuhan, stabilitas, dan kepercayaan pasar menjadi modal utama untuk mendorong investasi hijau. Transformasi hijau bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga strategi ekonomi jangka panjang untuk menciptakan lapangan kerja berkualitas dan meningkatkan daya saing nasional," tuturnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#energi baru terbarukan #transisi hijau #Ekonomi Hijau #pertumbuhan #bauran energi terbarukan