KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Perjalanan panjang Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) selama 74 tahun dinilai tidak terlepas dari perannya sebagai representasi utama dunia usaha dalam berhadapan dengan berbagai kepentingan, mulai dari pemerintah hingga serikat pekerja.
Hal ini disampaikan Ketua Dewan Pertimbangan Apindo Kalimantan Timur Slamet Brotosiswoyo, dalam peringatan HUT ke-74 Apindo di Balikpapan.
Slamet menuturkan, sejak awal berdiri, para pendiri Apindo sudah menyadari bahwa organisasi ini akan selalu berada di posisi strategis sekaligus menantang, karena harus memperjuangkan kepentingan pengusaha di tengah tarik-menarik kebijakan ketenagakerjaan.
Dalam konteks kebijakan upah, Slamet menjelaskan bahwa Apindo memiliki peran penting sebagai wakil pengusaha di Dewan Pengupahan, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Proses perundingan yang berlangsung setiap tahun memerlukan waktu panjang dan energi besar.
“Apindo ini mewakili pengusaha di Dewan Pengupahan. Setiap tahun selama enam bulan kita berunding untuk menentukan besaran UMP dan UMK. Ini perjuangan yang tidak ringan karena harus mempertemukan kepentingan pengusaha, serikat pekerja, dan pemerintah,” jelas Slamet.
Ia menyebut, dalam proses perundingan diperlukan kemampuan berargumentasi, mengendalikan emosi, serta sikap toleransi agar keputusan yang diambil tetap seimbang.
“Kita harus meyakinkan bahwa UMP itu bukan satu-satunya faktor kesejahteraan. Kita juga perlu memberi kesempatan kerja bagi lulusan SMP dan SMA. Kalau UMP terlalu tinggi, pengusaha akan cenderung memilih tenaga kerja dengan pendidikan lebih tinggi,” katanya.
Slamet berharap, di usia ke-74 tahun ini, Apindo semakin solid dan terus mendapat dukungan anggota untuk memperjuangkan kepentingan dunia usaha secara berkelanjutan.
“Apindo ini satu-satunya organisasi pengusaha yang tidak dualisme. Ini patut kita syukuri dan kita jaga bersama,” tutupnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo