Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Pakar Sebut Teknologi Sudah Ada, Tantangan Pertanian di Kaltim Ada di Petani

Raden Roro Mira Budi Asih • Rabu, 4 Februari 2026 | 16:24 WIB

 

PENGELOLAAN: Peningkatan SDM jadi penting agar petani mampu mengelola sawah baru dengan baik. Berkaitan juga dengan teknologi pertanian.
PENGELOLAAN: Peningkatan SDM jadi penting agar petani mampu mengelola sawah baru dengan baik. Berkaitan juga dengan teknologi pertanian.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Selain ketersediaan lahan, pakar pertanian Kaltim Rusmini menilai faktor irigasi dan sumber daya manusia petani menjadi penentu keberhasilan produksi padi.

Dia menyoroti masih banyaknya sawah yang bergantung pada tadah hujan sehingga hanya mampu panen satu kali dalam setahun.

“Irigasi memang jadi salah satu masalah utama, kalau hanya bergantung sawah tadah hujan, hanya satu kali panen,” kata dosen pengampu mata kuliah Teknologi Produksi Tanaman Pangan Politeknik Pertanian Negeri (Politani) Samarinda tersebut.

Menurutnya, dengan dukungan irigasi yang baik, frekuensi panen dapat ditingkatkan menjadi dua hingga tiga kali dalam setahun. Namun, kondisi jaringan irigasi di lapangan masih belum sepenuhnya optimal.

“Kalau irigasi diperbaiki, bisa dua sampai tiga kali panen. Saya lihat di Anggana masih irigasinya setengah teknis, belum maksimal untuk buka tutup dan sebagainya,” ujarnya.

Rusmini juga menyinggung pengelolaan air di wilayah pasang surut yang berpengaruh langsung terhadap produksi padi. Dia menilai, peran petani dan kelembagaan pengelola irigasi masih perlu diperkuat.

“Irigasi bisa dilakukan di petaninya, petugas P3A (Perkumpulan Petani Pemakai Air) sudah ada, dan mungkin bisa ditingkatkan kembali SDM di petaninya,” katanya.

Selain pengairan, Rusmini menyoroti penggunaan input pertanian. Disebutkan sebagian besar petani Kaltim masih banyak menggunakan pupuk anorganik. Padahal, pendekatan lain telah dicoba melalui kerja sama dengan berbagai pihak.

Dia menjelaskan, terdapat kerja sama dengan Politeknik Pertanian dan Bank Indonesia yang telah menghasilkan produktivitas sekitar 6-7 ton per hektare yang terjadi di petani desa Bukit Biru, Tenggarong.

Penerapan teknologi seperti penggunaan drone, aplikasi benih, hingga pemupukan juga telah dilakukan, meski masih terbatas. “Aplikasi benih menggunakan bakteri yang diproduksi di kampus Politani,” katanya.

Namun, upaya tersebut baru menjangkau sekitar 10 kelompok tani. Rusmini berharap pada 2026 pendampingan dapat diperluas. Dia juga menekankan pentingnya peningkatan SDM petani agar mampu mengelola sawah baru dengan baik. “Petani untuk cetak sawah baru harus paham pengelolaannya,” ucapnya.

Menurut Rusmini, perubahan pola budidaya tidak mudah karena petani perlu melihat bukti terlebih dahulu. Proses tersebut membutuhkan waktu dan pendampingan yang konsisten.

Dia menambahkan, kepastian pasar menjadi faktor penting agar petani tertarik menanam padi dan tidak beralih fungsi ke komoditas lain yang dinilai lebih menguntungkan. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#irigasi #ketersediaan lahan #petani #teknologi #tantangan #masalah #produksi padi