KALTIMPOST.ID-Wacana pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Indonesia kembali menguat seiring keperluan energi nasional yang terus meningkat.
Kalangan akademisi menilai, nuklir memiliki daya saing tinggi sebagai sumber energi bersih dan efisien untuk menopang ketahanan energi jangka panjang.
Purwadi Purwoharsojo, ekonom dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda mengatakan, energi nuklir sudah lama masuk perencanaan nasional melalui rencana umum energi nasional (RUEN).
Namun, hingga kini porsinya masih sangat kecil, di bawah lima persen dari bauran energi nasional.
“Dari perspektif energi bersih dan energi murah, nuklir jelas masuk kategori itu. Risiko memang ada, terutama terkait gempa. Namun berdasarkan riset yang saya ikuti, teknologi nuklir saat ini sudah masuk generasi keempat, yang dirancang tahan terhadap guncangan dan jauh lebih aman dibanding generasi sebelumnya. Karena itu, secara ekonomi dan teknologi, nuklir sangat layak dipertimbangkan,” beber Purwadi dalam diskusi bertajuk Swasembada.
Menurutnya, ketergantungan pada energi fosil tidak bisa terus dipertahankan karena cadangan yang kian menipis serta tekanan global untuk menurunkan emisi karbon.
Nuklir, kata dia, bisa menjadi salah satu solusi strategis untuk menjaga pasokan listrik tetap stabil pada masa depan.
Purwadi menilai Indonesia memiliki modal awal yang cukup, baik dari sisi sumber daya manusia maupun pengalaman riset di bidang nuklir.
Tinggal bagaimana pemerintah memperkuat regulasi, infrastruktur, serta penerimaan publik terhadap teknologi tersebut.
“Kalau kita ingin serius, maka harus dimulai dari sekarang. Bukan hanya bicara soal membangun PLTN, tetapi juga membangun ekosistemnya, mulai dari pendidikan, riset, hingga sistem keselamatan,” katanya. (rd)
Editor : Romdani.