Tekanan pasar yang meningkat sejak akhir Januari 2026 membuat saham-saham grup besar mengalami koreksi signifikan. Salah satu yang paling terasa terjadi pada kelompok usaha Barito. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) tercatat terkoreksi hampir 30 persen sejak puncaknya di penghujung Januari, melemahkan perannya sebagai penahan laju penurunan IHSG.
Kondisi serupa juga dialami PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang mengalami penurunan lebih dari seperempat nilai sahamnya dalam rentang kurang dari dua pekan. Tekanan turut menghantam PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) yang sempat merosot hingga mendekati level psikologis Rp1.000 per saham.
Di antara saham grup Barito, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) relatif lebih bertahan meski tetap mencatat koreksi. Penurunannya tercatat lebih ringan dibandingkan emiten segrup lainnya.
Berbeda arah, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) justru mampu menjaga tren positif. Saham ini mencatat kenaikan di tengah volatilitas pasar, menjadikannya salah satu emiten konglomerasi yang paling cepat pulih setelah tekanan hebat IHSG.
Tekanan pasar tidak hanya menimpa satu kelompok usaha. Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dari grup Sinarmas juga tertekan dalam, dengan koreksi yang memangkas nilai kapitalisasi pasarnya secara signifikan. Sementara itu, saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) turut melemah seiring meningkatnya aksi jual di saham berkapitalisasi besar.
Serangkaian koreksi tersebut berdampak langsung pada struktur kontributor IHSG. Bobot saham-saham konglomerasi terhadap indeks utama Bursa Efek Indonesia menyusut, mengubah komposisi Top 20 saham dibandingkan posisi akhir 2025.
Meski masih bertahan sebagai penyumbang terbesar IHSG, bobot BREN tercatat menurun, mencerminkan tekanan harga setelah reli panjang sebelumnya. Penurunan bobot juga terlihat pada sejumlah saham besar lain yang selama ini mendominasi indeks.
Fenomena “turun kasta” paling nyata terlihat pada saham-saham yang berada di lapisan bawah Top 20. Beberapa emiten mengalami penurunan peringkat signifikan, bahkan terancam terlempar dari daftar elite jika tekanan harga berlanjut.
Kondisi ini membuat konsentrasi IHSG menjadi sedikit lebih menyebar dibandingkan akhir tahun lalu. Namun demikian, ketergantungan indeks terhadap saham-saham berkapitalisasi jumbo masih tinggi. Selama saham lapis atas belum kembali menguat secara konsisten, ruang pemulihan IHSG diperkirakan tetap terbatas meskipun saham lapis kedua mulai menunjukkan pergerakan lebih aktif.
Daftar Saham Konglomerasi Terdampak Gejolak IHSG
1. Saham Grup Barito yang Mengalami Tekanan Kuat
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
Koreksi hampir 30 persen sejak akhir Januari 2026, bobot terhadap IHSG menurun.
PT Barito Pacific Tbk (BRPT)
Turun lebih dari 25 persen dalam waktu kurang dari dua pekan.
PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA)
Melemah sekitar 26 persen dan sempat mendekati level psikologis Rp1.000 per saham.
2. Saham Grup Barito yang Relatif Lebih Tahan
PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)
Tetap terkoreksi, namun penurunannya lebih ringan dibandingkan emiten segrup.
3. Saham Konglomerasi yang Bergerak Berlawanan Arah
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)
Mampu bertahan di zona positif dan mencatat kenaikan di tengah volatilitas IHSG.
4. Saham Konglomerasi Lain yang Ikut Tertekan
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) – Grup Sinarmas
Koreksi dalam yang memangkas kapitalisasi pasar secara signifikan.
PT Bayan Resources Tbk (BYAN)
Melemah seiring meningkatnya aksi jual saham berkapitalisasi besar.
PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI)
Terkoreksi cukup dalam di tengah tekanan pasar.
5. Saham yang Mengalami Fenomena “Turun Kasta” di IHSG
Emiten konglomerasi lapis bawah Top 20 IHSG yang bobot dan peringkatnya menurun.
Beberapa saham berisiko terdepak dari jajaran elite jika tekanan harga berlanjut.
6. Dampak Umum terhadap Struktur IHSG
Konsentrasi bobot IHSG terhadap saham konglomerasi mulai menyusut.
Struktur indeks menjadi lebih menyebar, namun masih bergantung pada saham jumbo.
Pemulihan IHSG dinilai terbatas selama saham papan atas belum kembali menguat.
Editor : Uways Alqadrie