Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Luas Panen Padi Kaltim 2025 Naik 5,51 Persen, Bertambah 3,48 Ribu Hektare

Raden Roro Mira Budi Asih • Senin, 16 Februari 2026 | 14:00 WIB
MENINGKAT: Luas panen padi pada 2025 tercatat 66,52 hektare, naik 3,48 ribu hektare dibanding 2024 lalu yang seluas 63,04 ribu hektare.
MENINGKAT: Luas panen padi pada 2025 tercatat 66,52 hektare, naik 3,48 ribu hektare dibanding 2024 lalu yang seluas 63,04 ribu hektare.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Perubahan pola musim panen mewarnai kinerja sektor pertanian Kalimantan Timur sepanjang 2025. Tak hanya meningkat, puncak panen padi pun bergeser dari biasanya terjadi pada September menjadi Maret.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kaltim, luas panen padi sepanjang 2025 mencapai 66,52 ribu hektare. Angkanya naik 3,48 ribu hektare atau 5,51 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 63,04 ribu hektare.

Statistisi Ahli Madya BPS Kaltim, Vivi Azwar menjelaskan, peningkatan tersebut terekam melalui hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA).

Menariknya, puncak panen pada 2025 mengalami pergeseran signifikan. Jika pada 2024 puncak panen terjadi pada September, tahun lalu justru bergeser ke Maret.

"Pada Maret 2025, luas panen tercatat 16,29 ribu hektare, jauh lebih tinggi dibanding Maret 2024 yang hanya 9,00 ribu hektare," jelasnya.

Secara spasial, beberapa kabupaten/kota mencatatkan lonjakan luas panen cukup tajam. Paser menjadi salah satu daerah dengan kenaikan signifikan, dari 11.342,28 hektare pada 2024 menjadi 14.599,13 hektare pada 2025. Kutai Barat bahkan melonjak lebih dari dua kali lipat, dari 449,25 hektare menjadi 1.727,10 hektare.

Sebaliknya, Berau mengalami penurunan cukup dalam, dari 5.674,14 hektare menjadi 3.110,25 hektare. Mahakam Ulu juga turun dari 283,33 hektare menjadi 191,36 hektare.

Vivi menerangkan, sejak 2018 BPS menggunakan metode KSA dalam menghitung luas panen padi. Metode itu berbasis pengamatan objektif di titik sampel tetap setiap bulan.

“Luas panen padi dihitung berdasarkan pengamatan yang objektif (objective measurement) menggunakan metodologi KSA yang dikembangkan oleh BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) dan BPS,” ujarnya.

Melalui pengamatan rutin tersebut, kondisi pertanaman dapat dipantau mulai dari fase persiapan lahan, vegetatif awal dan akhir, generatif, hingga fase panen. Hasilnya difoto dan dikirimkan ke server pusat untuk diolah.

Dengan sistem tersebut, estimasi potensi luas panen hingga tiga bulan ke depan juga bisa diproyeksikan. Hal tersebut menjadi basis penting dalam perencanaan tata kelola pangan daerah.

Kenaikan luas panen 2025 menjadi sinyal positif bagi ketahanan pangan Kaltim. Namun, dinamika pergeseran musim panen tetap menjadi catatan penting bagi pemangku kebijakan agar strategi produksi dan distribusi dapat disesuaikan lebih adaptif ke depan. (*)

Editor : Duito Susanto
#BPS KALTIM #lahan pertanian #berau #puncak panen #ketahanan pangan #Kutai Barat #badan pusat statistik