KALTIMPOST.ID, Pemerintah Indonesia resmi menyepakati kerja sama dagang besar-besaran dengan Amerika Serikat (AS).
Nilainya fantastis, mencapai US$ 15 miliar atau setara Rp 253,47 triliun per tahun untuk memboyong komoditas energi mulai dari minyak mentah hingga LPG.
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menegaskan bahwa kesepakatan dagang dengan AS tersebut tidak akan mengubah target Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk menghentikan ketergantungan pada Solar impor mulai tahun 2026.
"Komitmen Pak Menteri untuk stop impor Solar dan lainnya tetap jalan. Ini satu hal yang berbeda, karena kesepakatan untuk perdagangan antara kita dengan Amerika," ujar Dwi Anggia di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (20/2/2026).
Alasan RI Beli Energi dari Amerika
Keputusan untuk mengimpor minyak mentah (crude oil), LPG, hingga Bahan Bakar Minyak (BBM) dari Negeri Paman Sam ini merupakan bagian dari negosiasi tarif dagang.
Kesepakatan ini telah ditandatangani oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump dalam dokumen Implementation of the Agreement toward New Golden Age US-Indonesia Alliance.
Melansir dari CNBC Indonesia, Dwi menjelaskan, langkah ini diambil untuk menjaga keseimbangan neraca perdagangan antara kedua negara.
"Yang jelas ini kan sesuai dengan kesepakatan yang sudah dilakukan dengan Amerika Serikat, ini kan dalam rangka menyeimbangkan tarif perdagangan dua-dua pihak ya, dan akhirnya memang kita harus bersepakat untuk membeli BBM dari Amerika," jelas Dwi Anggia.
Selain urusan energi, kesepakatan resiprokal ini juga mencakup komitmen Indonesia untuk memboyong 50 pesawat Boeing dari AS.
Baca Juga: Impor Nonmigas Kaltim Melonjak pada Desember 2025, Tiongkok Masih Penyumbang Terbesar
Solar Dalam Negeri Jadi Prioritas
Meski ada komitmen belanja energi dari AS, Kementerian ESDM tetap mengunci target swasembada Solar.
Mulai April 2026, seluruh impor Solar jenis CN 48 (cetane number 48) ditargetkan berhenti total.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas), Laode Sulaeman, menegaskan bahwa SPBU swasta kini diarahkan untuk mengambil pasokan dari kilang domestik milik PT Pertamina (Persero).
"April sudah harus menggunakan Solar dalam negeri," tegas Laode dalam keterangannya.
Optimisme ini didorong oleh meningkatnya kapasitas produksi nasional seiring beroperasinya RDMP Kilang Balikpapan.
Baca Juga: Impor Kaltim Desember 2025 Melonjak Hingga USD603,73 Juta, Kenaikan Didominasi Migas
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya memaparkan bahwa kebutuhan Solar nasional sebesar 39,8 juta kilo liter (kl) dapat ditutupi oleh produksi dalam negeri yang mencapai 26,5 juta kl, ditambah dukungan program B40.
"Insya Allah begitu RDMP Kilang Balikpapan diresmikan pengoperasiannya mulai tahun ini, impor Solar dihentikan. Hal ini dilakukan dalam rangka mendorong kedaulatan energi," pungkas Bahlil. ***
Editor : Dwi Puspitarini