KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Di balik mobilitas tinggi seorang Area Manager BSI Area Balikpapan (Kaltimra), Andi Asni tetap menjalani peran lain yang tak kalah penting: sebagai ibu dan istri.
Karier yang menuntut perjalanan lintas kota hingga provinsi tidak pernah ia jalani sendiri, melainkan melalui kesepakatan dan dukungan keluarga yang menjadi fondasi utamanya.
Bagi Andi, kunci menjalani karier panjang di dunia perbankan terletak pada komunikasi dengan pasangan. Ia menyadari profesinya bukan pekerjaan dengan ritme biasa. Dunia perbankan, menurutnya, hampir tidak mengenal hari libur.
“Kalau di bank sebenarnya tidak ada istilah weekend. Semua hari itu weekdays bagi kami. Tapi itu bentuk kecintaan terhadap pekerjaan, jadi dijalani saja,” tutur ibu dua anak tersebut.
Sebagai area manager yang membawahi wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, ia harus rutin bepergian mengunjungi puluhan cabang. Dalam satu bulan, jadwal penerbangan menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya. Baru kembali dari satu kota, ia sudah harus bersiap menuju daerah lain.
“Tugas saya memang berkeliling. Cabang saya ada 25, tersebar di berbagai daerah. Jadi mobilitas itu sudah konsekuensi jabatan,” katanya.
Kesibukan itu sempat memunculkan protes dari anak-anaknya, terutama pada lima tahun pertama masa kariernya. Putra keduanya bahkan pernah meminta sang ibu berhenti bekerja karena jarang berada di rumah. “Anak saya pernah bilang, ibu berhenti kerja saja. Itu momen yang berat,” kenangnya.
Alih-alih memendam masalah, Andi memilih terbuka kepada atasannya. Dukungan yang ia terima justru datang dari lingkungan kerja. Pimpinan cabangnya saat itu bahkan menemui langsung anaknya untuk memberi pengertian dengan pendekatan sederhana.
“Anak-anak itu kan polos. Diajak ngobrol, diberi pemahaman. Setelah itu dia tidak pernah protes lagi,” tuturnya.
Kini kedua anaknya, si sulung Andi Balqis dan si bungsu Andi Qaisar telah beranjak remaja dan mulai memahami tanggung jawab sang ibu. Andi pun menyiasati keterbatasan waktu dengan menciptakan quality time setiap kesempatan pulang.
“Kalau kuantitas waktu kurang, saya ganti dengan kualitas. Saat bersama keluarga, saya benar-benar hadir,” katanya.
Momen sederhana seperti menonton film bersama menjadi ritual penting sebelum ia kembali melakukan perjalanan dinas. Bahkan di tengah rasa lelah, ia selalu menyempatkan waktu bersama keluarga sebelum kembali terbang.
Dukungan terbesar juga datang dari suaminya, Yudi Windarto, yang memilih memberikan kebebasan selama pekerjaan itu dijalani dengan bahagia. Ketika Andi harus menjalani hubungan jarak jauh saat bertugas di Makassar, sang suami tetap mendukung penuh. “Suami saya bilang, selama kamu happy, jalani. Kalau tidak bahagia, jangan dipaksakan,” ujarnya.
Andi sendiri bukan pendatang baru di Balikpapan. Ia telah tinggal di kota ini sejak usia 10 tahun, menempuh pendidikan dari SD 008 Balikpapan Utara, SMP 3 Balikpapan, hingga SMA 2 Balikpapan sebelum melanjutkan kuliah di Universitas Mulawarman.
Kedekatan emosional dengan wilayah ini membuatnya memahami karakter masyarakat dan potensi bisnis daerah.
Dalam pekerjaannya, ia memimpin 500-an karyawan yang tersebar di berbagai cabang. Menurutnya, keberhasilan area Balikpapan tidak lepas dari kekuatan tim yang solid.
Beberapa kali wilayah yang dipimpinnya bahkan meraih penghargaan kinerja terbaik tingkat nasional. “Saya sangat terbantu tim. Mereka orang-orang yang mampu dan menguasai wilayahnya masing-masing,” katanya.
Pengalaman perjalanan ekstrem juga pernah ia rasakan saat bertugas di wilayah Indonesia timur. Ia pernah menempuh perjalanan darat hampir 20 jam untuk mencapai cabang terpencil saat menjabat di Makassar.
“Capek pasti, tapi happy. Melihat teman-teman di cabang pelosok yang tetap semangat melayani nasabah itu luar biasa,” ujarnya.
Di tengah ritme kerja yang padat, Andi menjaga keseimbangan hidup dengan hal-hal sederhana. Ia gemar menonton film, bernyanyi, dan menikmati waktu santai bersama keluarga sebagai cara mengisi ulang energi.
Bagi Andi, perjalanan karier bukan tentang seberapa jauh ia terbang, tetapi bagaimana tetap pulang dengan hati yang utuh. “Selama ada dukungan keluarga dan kita menikmati prosesnya, semua terasa ringan,” pungkasnya dengan senyum penuh rasa syukur. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo