Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Ramadan: Inflasi Barang vs Inflasi Taqwa?

Ulil Mu'Awanah • Senin, 23 Februari 2026 | 19:42 WIB

Bambang Saputra, Dosen & Peneliti STIE Balikpapan.
Bambang Saputra, Dosen & Peneliti STIE Balikpapan.

Catatan Bambang Saputra, Dosen & Peneliti STIE Balikpapan

KALTIMPOST.ID – Bulan Ramadan di Indonesia selalu menghadirkan dinamika yang menarik antara peningkatan aktivitas spiritual dan fluktuasi ekonomi. Di satu sisi, umat muslim berupaya mencapai "inflasi taqwa" sebuah eskalasi kualitas diri dan kepedulian sosial.

Di sisi lain, secara struktural, pasar sering kali menghadapi tekanan “inflasi barang” yang dipicu oleh pola musiman dan perubahan perilaku pasar yang masif dalam waktu singkat.

Data historis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pola yang sangat konsisten. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau selalu menjadi motor utama inflasi.

Pada Maret 2024, kelompok ini menyumbang 0,41 persen dari inflasi umum 0,52 persen, sementara pada Maret 2025 andilnya tetap tinggi di angka 0,37 persen dari inflasi umum 1,65 persen.

Peningkatan ini sangat dipengaruhi oleh ekspektasi permintaan masyarakat yang melonjak selama momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

Menjadi sebuah paradoks ketika di bulan yang mewajibkan kita untuk menahan diri, indeks harga kelompok makanan dan minuman justru menjadi kontributor utama inflasi. Secara psikologis, "lapar mata" menjelang berbuka memicu permintaan (demand) yang melonjak secara serentak.

Ketika masyarakat berbondong-bondong memborong stok pangan karena khawatir harga akan semakin mahal atau barang akan langka, tindakan ini justru menciptakan panic buying yang justru mempercepat terjadinya lonjakan harga di pasar.

Di tengah perilaku konsumsi berlebih dan fenomena panic buying, kita perlu menoleh kembali pada teladan baginda Nabi Muhammad SAW. Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, sahabat yang melayani Rasulullah selama sepuluh tahun, memberikan kesaksian yang sangat menyentuh tentang pola konsumsi Nabi.

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW tetap berpuasa dan beraktivitas sebagaimana biasanya, tanpa persiapan konsumsi yang berlebihan. Beliau sering kali berbuka hanya dengan beberapa butir ruthab (kurma basah), atau jika tidak ada, cukup dengan beberapa teguk air putih.

"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan ruthab sebelum shalat (Maghrib). Jika tidak ada ruthab, maka dengan tamr (kurma kering), dan jika tidak ada tamr, beliau meminum beberapa teguk air." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Kesederhanaan ini menunjukkan bahwa Ramadan bagi Rasulullah adalah tentang pengosongan perut untuk pengisian jiwa, sebuah praktik nyata dari inflasi taqwa yang seharusnya kita teladani, bukan justru memindahkan kemewahan makan siang ke waktu berbuka.

Menjadikan ketaqwaan sebagai landasan perilaku ekonomi dapat menjadi solusi efektif bagi pengendalian inflasi baik secara nasional termasuk di daerah.

Implementasi "inflasi taqwa" dalam ekonomi dapat diwujudkan melalui: pertama, konsumsi berkelanjutan: membeli barang sesuai kebutuhan bukan keinginan dan mempertimbangkan aspek kemanfaatan/keberkahan.

Kedua, filantropi sebagai penyeimbang: memperkuat penyaluran zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Di tengah naiknya harga barang, distribusi kekayaan melalui ZIS sangat krusial untuk menjaga daya beli kelompok masyarakat rentan.

Ketiga, kolaborasi dengan pemerintah: mendukung upaya Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melalui gerakan belanja bijak dan memastikan stok pangan tersedia merata bagi seluruh warga.

Ramadan adalah ujian atas kedaulatan kita terhadap nafsu. Inflasi barang yang terus berulang setiap tahun adalah cermin retak bahwa ego kita seringkali lebih besar daripada sujud kita.

Tantangannya bukan sekadar bertahan di tengah kenaikan harga, melainkan membuktikan bahwa grafik ketaqwaan mampu tumbuh lebih eksponensial dibandingkan Indeks Harga Konsumen (IHK).

Mari kita biarkan harga-harga melandai melalui kesederhanaan, dan membiarkan nilai taqwa kita mencapai titik tertingginya di hadapan Sang Pencipta. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Barang #ramadan #ekonomi #inflasi #taqwa