KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Karakter ekonomi daerah menentukan arah pembiayaan. Di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, peta pembiayaan mikro Bank Syariah Indonesia (BSI) menunjukkan pola yang kontras antara kota besar dan wilayah kabupaten.
Area Micro Pawning Manager BSI, Herianto, mengungkapkan di wilayah perkotaan seperti Balikpapan dan Samarinda, sektor perdagangan dan jasa menjadi primadona. Dua sektor tersebut tumbuh seiring aktivitas ekonomi kota yang padat. Perputaran barang dan jasa yang cepat membuat kebutuhan modal kerja juga tinggi.
Namun situasinya berbeda di cabang-cabang yang lebih jauh dari pusat kota. “Untuk cabang-cabang yang remote itu beda lagi. Biasanya lebih banyak ke sektor perkebunan. Sawit mandiri dan plasma itu sudah banyak, ada perkebunan karet juga,” jelas Herianto.
Artinya, di kabupaten dan wilayah agraris, pembiayaan lebih diarahkan ke sektor produktif berbasis lahan. Perkebunan sawit menjadi tulang punggung ekonomi setempat, baik dalam pola mandiri maupun plasma.
Pendekatan itu sejalan dengan visi pemberdayaan UMKM sebagai sendi utama perekonomian nasional. Dari data Asean Investment Report, UMKM menyumbang lebih dari 60 persen terhadap PDB dan mempekerjakan lebih dari 114 juta orang.
Karena itu, pembiayaan tidak digeneralisasi. Setiap wilayah dipetakan sesuai potensi dominannya. Strategi berbasis karakter ekonomi lokal tersebut menjadi kunci menjaga pembiayaan tetap produktif dan berdampak langsung terhadap pertumbuhan usaha masyarakat. (*)
Editor : Duito Susanto