Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Andalkan Eksklusivitas, Penjualan Busana Muslim Diproyeksi Naik Lima Kali Lipat

Nasya Rahaya • Sabtu, 28 Februari 2026 | 20:41 WIB

EKSKLUSIF: Koleksi series busana Ramadan yang dikembangkan Marlita tahun ini ialah Blue of Waves. Baru-baru ini dia mengikuti ajang fashion show di Jogjakarta untuk menambah pelanggan dari luar daerah
EKSKLUSIF: Koleksi series busana Ramadan yang dikembangkan Marlita tahun ini ialah Blue of Waves. Baru-baru ini dia mengikuti ajang fashion show di Jogjakarta untuk menambah pelanggan dari luar daerah

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Tak hanya menjadi berkah bagi pelaku usaha kuliner, Ramadan juga jadi momentum emas bagi pelaku usaha busana muslim untuk meraup cuan. Hal itu dirasakan langsung oleh Marlita Silvianti, desainer sekaligus owner brand LitaOne, asal Balikpapan.

Perempuan yang telah delapan tahun berkecimpung di dunia fashion itu menyebut, lima tahun terakhir ia serius menggarap Ramadan series. “Kalau Ramadan series pasti saya keluarkan, karena memang DNA saya busana muslim,” ujarnya.

Menurut Marlita, peningkatan penjualan saat Ramadan bisa mencapai empat hingga lima kali lipat dibanding bulan biasa. Lonjakan itu tak lepas dari kebiasaan masyarakat yang membeli busana seragam untuk satu keluarga.

“Kalau hari biasa-biasanya perorangan. Tapi menjelang Lebaran itu satu keluarga. Ada yang lima orang, bahkan lebih. Jadi otomatis jumlahnya naik berkali-kali lipat,” jelasnya.

Meski permintaan tinggi, Marlita memilih membatasi produksi demi menjaga kualitas dan eksklusivitas. Untuk setiap motif dan model, ia hanya memproduksi hanya sekitar 20 potong. Bahkan untuk Ramadan, ia hanya melayani tiga hingga empat keluarga saja.

“Saya bikin motif sendiri, kainnya saya pesan khusus dari Makassar. Jadi memang tidak banyak. Saya batasi supaya tidak banyak yang nyamain. Takutnya kalau terlalu banyak dan maistream,” katanya.

Untuk Ramadan tahun ini, LitaOne mengusung series bertajuk Blue of Waves. Koleksi tersebut diluncurkan tiga bulan sebelum Ramadan. Saat ini, pesanan sudah penuh sejak sebulan sebelum bulan puasa. Harga yang ditawarkan berada di segmen premium.

“Start dari Rp 1,5 juta sampai Rp 3,5 juta. Karena kita jual karya, jual ide. Bukan konfeksi,” tegasnya. Dari sisi tren, Marlita menyebut model gamis, abaya dan baju kurung Melayu masih menjadi favorit.

Perubahan biasanya hanya pada motif, detail payet, renda, atau pilihan bahan seperti brokat bagi konsumen yang menyukai tampilan lebih glamor. “Kalau model sebenarnya tidak banyak berubah. Yang beda itu detail dan motifnya. Ada yang suka polos simpel, ada juga yang suka glamor,” ujarnya.

Strategi mendongkrak penjualan, lanjutnya, tak bisa lepas dari peran media sosial. Branding yang tepat dan mengenali target pasar menjadi kunci utama.

“Kita harus tahu dulu market kita menengah ke bawah atau menengah ke atas. Baru branding lewat sosmed. Untuk saya yang fashion designer juga harus rajin ikut fashion show supaya brand makin dikenal,” katanya.

Baru-baru ini Marlita mengikuti ajang fashion show di Yogyakarta, yang berdampak pada bertambahnya pelanggan baru dari luar daerah. Selain pelanggan lama yang repeat order, setiap tahun selalu ada konsumen baru yang datang, baik melalui online maupun setelah melihat koleksinya di peragaan busana.

Bagi pemula yang ingin meraih cuan di Ramadan, ia berpesan agar fokus pada kualitas dan mengenali pasar. “Jangan cuma ikut-ikutan. Kenali dulu targetnya siapa, sesuaikan harga, dan maksimalkan branding di media sosial,” tutupnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#busana muslim #ramadan #cuan #pelaku usaha #kuliner