KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Suasana Ramadan tahun ini di sekitar pasar Ramadan diakui Endah Budi Utami tak semeriah tahun sebelumnya. Lapak takjil tak lagi membludak.
Jika biasanya dua hari sebelum puasa sudah ramai lapak berdiri di Pasar Ramadan dekat rumahnya di Harapan Baru, Loa Janan Ilir Samarinda, kali ini lebih landai itu. Namun owner Endah Brownies Bunda itu tetap menjaga dapurnya menyala setiap hari.
“Enggak terlalu ramai, tidak seperti tahun sebelumnya. Cuma mungkin banyak faktor ya. Terus kebetulan juga mungkin ini habis tahun baru. Sudah gitu anak-anak mau persiapan sekolah. Jadi mungkin antusiasnya tidak sebanyak tahun kemarin. Tapi enggak terlalu berdampak banyak sih, alhamdulillah tiap hari ada pesanan,” ujarnya.
Berbeda dari pedagang lain yang mengandalkan menu umum, Endah justru memainkan strategi diferensiasi. Dia menghadirkan takjil yang jarang ditemui di pasar Ramadan. “Yang manis yang terutama. Jual yang jarang, seperti pai buah, terus kayak lumpur surga yang jarang ada di pasar. Bikin kue tetu juga. Itu malah lebih cepat habis,” jelasnya.
Tak heran jika pai buah, lumpur surga, hingga kue tetu yang disebutnya sebagai kue khas Sulawesi menjadi primadona. “Kalau enggak gitu mah kita kalah. Jadi, kita harus inovasi. Kue yang dijual yang orang jarang bikin. Kalau di Pasar Ramadan biasanya lumpia biasa, di saya jualnya sosis solo atau risol mayo,” tambahnya.
Dalam sehari, Endah memproduksi dua hingga empat jenis menu. Minimal satu item diproduksi 50 pieces. Untuk roti, produksinya bisa mencapai 70 pieces per jenis. Namun, prioritas tetap pada pesanan khusus.
“Misalkan besok kita ada pesanan buah ya, pai buah itu 500 biji. Otomatis ada dikalahkan di takjil, jadi bikin dua jenis saja. Jadi saya lebih mengutamakan yang pesanan duluan,” katanya.
Sistem penjualannya, dia memilih produksi harian lalu membagikan daftar ready stock menjelang siang. “Jadi sistemnya tuh buat dulu. Nanti baru sekitar siang gitu baru saya share yang ready apa aja,” jelasnya.
Soal harga, Endah sadar produknya tak bisa disandingkan dengan jajanan murah di pasar. Namun dia percaya kualitas tetap dicari. “Walaupun memang dari harga selisih dengan di pasaran, tapi kan kita menjual kualitasnya. Ada harga, ada rasa," ungkapnya.
Menariknya, dia juga mengamati perubahan perilaku konsumen. Menurutnya, pembeli kini lebih cermat soal kebersihan dan kualitas. Sehingga tokonya memiliki pelanggan tersendiri.
Untuk kue kering Lebaran, Endah masih membuka pre-order. Dengan lima orang tim termasuk dirinya dan tambahan satu orang saat Ramadan, Endah memastikan produksi tetap terjaga. Tidak bombastis, tapi konsisten. Di tengah pasar yang lebih tenang, Endah memilih strategi cerdas. Bukan ramai-ramai, tapi beda sendiri. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo