Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Ekonomi Kaltim 2026 Diprediksi Melandai Akibat Normalisasi Proyek IKN

Raden Roro Mira Budi Asih • Minggu, 1 Maret 2026 | 18:45 WIB

Setelah sempat menembus angka 6,17 persen di tahun 2024 berkat percepatan IKN, pertumbuhan ekonomi Bumi Etam diprediksi bakal lebih "kalem" di tahun 2026 ini.
Setelah sempat menembus angka 6,17 persen di tahun 2024 berkat percepatan IKN, pertumbuhan ekonomi Bumi Etam diprediksi bakal lebih "kalem" di tahun 2026 ini.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur diperkirakan tidak setinggi dibanding 2024. Jika pada 2024 mampu menembus hingga 6,17 persen, pada 2026 diproyeksi berada di rentang 4,5-5,3 persen. Salah satu faktor utamanya adalah normalisasi proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Analis Senior Fungsi Perumusan Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Daearah (KEKDA) Ashari Novy Sucipto menjelaskan, lonjakan pertumbuhan 2024 sangat ditopang percepatan proyek konstruksi IKN.

“Kalau kita lihat bahwa memang sebenarnya di tahun 2024 pertumbuhan ekonomi banyak terdapat dari percepatan infrastruktur. Banyak proyek konstruksi, banyak percepatan proyek di IKN sehingga itu mendorong tinggi sekali pertumbuhan ekonomi di 2024,” jelasnya.

Baca Juga: Target Naik 21,87 Persen, Realisasi Pendapatan Kaltim Justru Turun

Namun kondisi berbeda terjadi setelahnya. “Di 2025 sendiri proyek IKN-nya normalisasi. Nah, di 2025 ada normalisasi anggaran, sehingga agak sedikit melandai,” lanjutnya.

Selain faktor IKN, tekanan global juga berpengaruh. Perlambatan ekonomi dunia serta harga komoditas yang tertahan berdampak pada sektor andalan Kaltim, yakni ekstraktif.

“Memang sebenarnya ekonomi Kaltim itu engine-nya cuma satu, sektor ekstraktif. Makanya 2010 sampai 2020 itu sangat tergantung dari globalnya seperti apa, harganya seperti apa,” paparnya.

Batubara sebagai komoditas utama juga menghadapi tekanan harga. Pasar ekspor tradisional Kaltim didominasi Tiongkok, India, dan negara-negara Asia, bukan Amerika Serikat.

Baca Juga: Penukaran Uang Baru via PINTAR Diserbu, BI Kaltim: 95 Persen lewat Bank

“Pasar tradisional untuk ekspor itu lebih banyak ke Tiongkok dan Asia. Kalau dari teman-teman asosiasi batubara, kalau harganya tinggi pasti ekspornya akan naik. Sementara di 2026 ini sinyalnya masih agak tertahan,” jelasnya, Jumat (27/2).

Meski demikian, BI melihat sejumlah penopang baru mulai bergerak. Industri pengolahan di Balikpapan disebut sudah mulai beroperasi dan berpotensi memberi dampak signifikan. Sektor konstruksi swasta, pembangunan pabrik, hingga proyek Kodam dan KPR juga mulai menggeliat.

Selain itu, migrasi ASN ke IKN pada 2026 diharapkan ikut mendorong sektor perdagangan dan jasa domestik. “Kami mengharapkannya dari industri pengolahan dan konstruksi swasta yang mulai bergeliat. Mudah-mudahan kondisi global membaik sehingga engine pertumbuhan kita bisa lebih seimbang,” pungkasnya.

Dengan struktur ekonomi yang masih bertumpu pada komoditas, Kaltim memang menghadapi tantangan diversifikasi. Namun inisiasi hilirisasi dan penguatan sektor non-ekstraktif diharapkan menjadi bantalan agar laju pertumbuhan tetap terjaga meski tidak setinggi euforia konstruksi 2024 lalu. (*/riz)

Editor : Muhammad Rizki
#Ekonomi Kaltim #IKN #Ibu Kota Nusantara (IKN)