KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah mulai terasa dampaknya bagi pelaku industri event organizer (EO) di Kaltim. Sejumlah kegiatan yang biasanya digelar pemerintah kini banyak ditiadakan, sehingga permintaan jasa EO menurun.
Ketua Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (Asperapi) Kaltim, Deddy Iskandar, mengatakan kondisi tersebut sudah terasa sejak awal tahun 2026. Terutama pada kegiatan yang bersifat seremonial, seperti konser atau acara hiburan dalam perayaan hari besar pemerintah daerah.
“Kalau kita lihat dari Januari sampai sekarang, event pemerintah hampir sekitar 70 persen ditiadakan. Jadi memang terasa sekali bagi teman-teman EO,” ujar Deddy kepada Kaltim Post, Jumat (6/3).
Deddy yang juga Direktur Utama ADW Bersaudara yakni perusahaan yang bergerak di jasa EO menjelaskan, sebelumnya berbagai agenda pemerintah biasanya sudah terjadwal sejak awal tahun. Namun pada tahun ini, banyak kegiatan yang belum jelas atau bahkan dihapus.
Sebagai contoh, sejumlah perayaan hari jadi pemerintah daerah yang sebelumnya disertai konser dan pameran kini digelar lebih sederhana. “Biasanya ada konser atau pameran besar. Sekarang kebanyakan hanya apel saja atau kegiatan sederhana,” katanya.
Meski demikian, Deddy menilai peluang event dari pemerintah masih tetap ada. Menurutnya, pemerintah tetap membutuhkan kegiatan promosi maupun sosialisasi kepada masyarakat. Hanya saja, skala kegiatan kemungkinan lebih kecil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Kegiatan pasti tetap ada. Tidak mungkin nol sama sekali. Tapi memang kemungkinan berkurang dibanding tahun lalu,” jelasnya.
Karena itu, para pelaku EO di Kaltim kini harus lebih kreatif mencari peluang agar bisnis tetap berjalan. “Situasi ini memang tidak hanya dirasakan di Kaltim. Teman-teman EO di daerah lain juga mengalami hal yang sama,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo