Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Konflik Timur Tengah Bikin Agen Wisata Tertekan, Banyak Jadwal Perjalanan Dibatalkan, Harus Kembalikan Uang

Ulil Mu'Awanah • Minggu, 8 Maret 2026 | 21:53 WIB

KESELAMATAN: Pada periode Maret hingga April, pasar wisatawan asing mengalami penurunan signifikan karena terbatasnya penerbangan akibat konflik di Timur Tengah.
KESELAMATAN: Pada periode Maret hingga April, pasar wisatawan asing mengalami penurunan signifikan karena terbatasnya penerbangan akibat konflik di Timur Tengah.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Kondisi sektor pariwisata menunjukkan perlambatan yang cukup signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Sejumlah pelaku usaha perjalanan wisata mengaku menghadapi tekanan berat akibat menurunnya permintaan perjalanan domestik maupun internasional.

Dampaknya tidak hanya dirasakan agen perjalanan, tetapi juga pengusaha hotel, maskapai, hingga pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Pemilik Trans Borneo Adventure Tours Joko Purwanto mengatakan, situasi saat ini belum sepenuhnya pulih dibanding masa pandemi. Kondisi ekonomi secara umum disebut tidak baik-baik saja sehingga berdampak langsung pada sektor pariwisata.

 Sejak awal tahun hingga Maret, anggaran pemerintah juga belum berpihak pada pariwisata sehingga aktivitas meetings, incentives, conferences, and exhibitions (MICE) dan perjalanan dinas turun signifikan.

“Kondisi saat ini bisa dibilang tidak lebih baik daripada waktu Covid. Ekonomi memang sedang tidak baik-baik saja, dari segi pariwisata pun turun drastis,” kata Joko, akhir pekan lalu.

Ia menjelaskan, pengurangan anggaran berdampak pada menurunnya kegiatan di hotel karena banyak instansi tidak lagi menyelenggarakan acara. Kondisi ini otomatis menekan tingkat hunian hotel sekaligus permintaan perjalanan wisata. Selain itu, turunnya perjalanan dinas juga berimbas pada bisnis transportasi dan paket wisata domestik.

Dampak paling terasa bagi pelaku usaha adalah maraknya pembatalan perjalanan. Joko mengungkapkan, banyak pemesanan yang akhirnya dibatalkan sehingga pihaknya harus mengembalikan uang muka pelanggan meski berstatus force majeure.

 Situasi tersebut membuat pelaku usaha tidak hanya kehilangan potensi pendapatan, tetapi juga mengalami kerugian waktu dan biaya operasional yang sudah terlanjur dikeluarkan.

Ia menambahkan, pembatalan perjalanan terjadi hampir merata di berbagai daerah. Untuk periode Maret hingga April, pasar wisatawan Eropa disebut menjadi yang paling terdampak karena terbatasnya penerbangan. Kondisi tersebut membuat permintaan perjalanan ke berbagai destinasi di Indonesia ikut menurun.

Menurut Joko, perlambatan pariwisata berpotensi menciptakan efek berantai terhadap perekonomian. Penurunan jumlah wisatawan akan berdampak langsung pada sektor perhotelan, transportasi, kuliner, hingga UMKM lokal yang selama ini bergantung pada aktivitas wisata.

"Kami berharap kondisi global segera membaik agar sektor pariwisata bisa kembali pulih. Ia menilai kepastian situasi sangat dibutuhkan agar pelaku usaha dapat menyusun strategi ke depan dan mengurangi risiko kerugian yang lebih besar," harapnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#domestik #perjalanan #internasional #penerbangan #wisatawan #pelaku usaha #turis #umkm #agen perjalanan