KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Kinerja industri pengiolahan di Balikpapan mengalami perlambatan. Ini tercermin dari nilai ekspor Balikpapan pada Januari 2026 tercatat yang hanya USD 511,94 juta atau turun 30,14 persen dibandingkan Desember 2025 yang mencapai USD 732,80 juta.
Penurunan tersebut menjadi salah satu koreksi bulanan terdalam dalam beberapa bulan terakhir. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan Marinda Dama mengungkapkan, penurunan ekspor terutama terjadi pada kelompok hasil industri pengolahan.
Yakni turun dari USD 375,55 juta pada Desember 2025 menjadi USD 182,90 juta pada Januari 2026 atau merosot 51,30 persen. Penurunan ini menjadi kontributor terbesar terhadap kontraksi ekspor secara keseluruhan.
Penurunan bulanan tersebut tidak terlepas dari fluktuasi permintaan dan dinamika pengiriman komoditas ke pasar global. Serta pola ekspor Balikpapan yang cenderung fluktuatif secara bulanan.
Secara sektoral, ekspor nonmigas masih mendominasi dengan nilai USD 434,13 juta atau berkontribusi 84,80 persen terhadap total ekspor Januari 2026.
Sementara ekspor migas tercatat sebesar USD 77,81 juta dengan kontribusi 15,20 persen. Pada kelompok nonmigas, sektor pertambangan menjadi penopang terbesar dengan nilai USD 250,52 juta atau sekitar 48,93 persen dari total ekspor, diikuti hasil industri pengolahan sebesar USD 182,90 juta atau 35,73 persen.
Sepanjang 2025, nilai ekspor bergerak naik turun dengan tren meningkat menjelang akhir tahun, mencapai puncak pada Desember 2025 di kisaran USD 732,80 juta. Namun memasuki Januari 2026, grafik menunjukkan penurunan cukup dalam hingga ke level USD 511,94 juta.
Meski turun secara bulanan, secara tahunan kinerja ekspor Balikpapan masih mencatatkan pertumbuhan.
Dibandingkan Januari 2025 yang sebesar USD 466,88 juta, ekspor Januari 2026 meningkat 9,65 persen. Kenaikan tahunan ini terutama didorong oleh melonjaknya ekspor hasil pertanian yang tumbuh sangat tinggi hingga 801,25 persen, dari hanya USD 0,08 juta menjadi USD 0,71 juta.
"Tren tahunan yang masih positif menunjukkan daya tahan ekspor daerah masih cukup kuat. Namun pelaku usaha tetap perlu mencermati dinamika permintaan global dan volatilitas harga komoditas," tuturnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo