Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Hortikultura Naik 3,89 Persen, Dua Subsektor Pertanian Kaltim Justru Turun

Raden Roro Mira Budi Asih • Selasa, 17 Maret 2026 | 04:55 WIB

TERTINGGI: Hortikultura catatkan nilai NTP tertinggi yakni 3,89 persen dibanding subsektor lainnya.
TERTINGGI: Hortikultura catatkan nilai NTP tertinggi yakni 3,89 persen dibanding subsektor lainnya.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kinerja subsektor pertanian di Kalimantan Timur pada Februari 2026 menunjukkan pergerakan yang tidak merata. Beberapa subsektor mencatat kenaikan signifikan, sementara lainnya justru mengalami penurunan.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat dua subsektor mengalami penurunan Nilai Tukar Petani (NTP), yakni tanaman pangan dan tanaman perkebunan rakyat.

Kepala BPS Kaltim Mas’ud Rifai menjelaskan, NTP subsektor tanaman pangan turun 1,09 persen, sedangkan tanaman perkebunan rakyat turun 0,65 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Sebaliknya, tiga subsektor lain justru mencatat pertumbuhan positif. “Yaitu subsektor hortikultura 3,89 persen, subsektor peternakan 1,01 persen, dan subsektor perikanan 0,74 persen,” jelas Mas’ud.

Baca Juga: Posko THR Paser 2026 Dibuka, Disnakertrans Mulai Terima Aduan Pekerja

Meski mengalami penurunan, Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat masih tercatat paling tinggi dibandingkan subsektor lain. Pada Februari 2026 nilainya mencapai 210,51.

Sementara itu, Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan tercatat sebesar 102,66. Angka tersebut masih berada di atas 100 yang menunjukkan petani tetap berada dalam kondisi surplus.

Pada subsektor hortikultura, peningkatan kinerja dipicu oleh kenaikan harga sejumlah komoditas sayur dan buah. Hal itu tercermin dari meningkatnya indeks harga yang diterima petani pada subsektor tersebut.

Mas’ud menjelaskan, dinamika harga komoditas menjadi faktor utama yang memengaruhi perubahan nilai tukar di masing-masing subsektor.

Baca Juga: Dampak Perang Iran–AS ke Ekonomi Kaltim: Peluang-Tantangan & Evaluasi RKAB

“Indeks Harga yang Diterima Petani merupakan nilai produksi yang dijual petani dari tiap jenis barang hasil pertanian yang dapat menunjukkan fluktuasi harga barang-barang yang dihasilkan petani,” katanya.

Selain itu, perubahan Nilai Tukar Petani juga dipengaruhi oleh Indeks Harga yang Dibayar Petani yang mencerminkan pengeluaran rumah tangga petani serta biaya produksi pertanian.

Menurut Mas’ud, indikator tersebut menggambarkan perubahan harga barang dan jasa yang harus dibayar petani, baik untuk kebutuhan konsumsi maupun kegiatan produksi. Pergerakan kedua indeks tersebut pada akhirnya menentukan posisi nilai tukar pada masing-masing subsektor. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#NTP Kaltim Februari 2026 #BPS KALTIM #nilai tukar petani #hortikultura #kaltim #subsektor pertanian