KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Daya beli petani di Kalimantan Timur masih berada pada zona positif meski Nilai Tukar Petani (NTP) mengalami penurunan tipis pada Februari 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat NTP pada Februari 2026 sebesar 149,08 atau turun 0,04 persen dibandingkan Januari 2026 yang berada di angka 149,14.
Kepala BPS Kaltim Mas’ud Rifai menjelaskan, penurunan tersebut dipengaruhi oleh pergerakan harga hasil produksi pertanian dan biaya yang harus dikeluarkan petani.
“Penurunan NTP disebabkan karena indeks harga hasil produksi pertanian hanya naik 0,38 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani meningkat 0,42 persen,” jelasnya.
Menurut Mas’ud, NTP merupakan indikator penting untuk melihat kemampuan ekonomi rumah tangga petani di pedesaan. Indikator ini membandingkan harga yang diterima petani dari hasil produksi dengan harga yang mereka bayarkan untuk konsumsi rumah tangga maupun kebutuhan produksi.
“NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan,” ujarnya.
Meski mengalami penurunan secara bulanan, kondisi petani di Kaltim secara umum masih berada dalam posisi surplus. Hal itu terlihat dari nilai NTP yang tetap berada jauh di atas angka 100.
“Berdasarkan hasil survei tersebut, NTP Februari 2026 sebesar 149,08 yang berarti petani masih mengalami surplus atau kenaikan daya beli,” lanjutnya.
Surplus tersebut menunjukkan bahwa harga yang diterima petani secara relatif masih lebih tinggi dibandingkan harga yang harus mereka bayarkan.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, NTP Kaltim juga mengalami peningkatan. Pada Februari 2026, NTP tercatat naik 0,66 persen dibandingkan Februari 2025.
Penghitungan indikator tersebut didasarkan pada survei pemantauan harga yang dilakukan di sejumlah wilayah sentra pertanian di Kaltim. Pengumpulan data dilakukan di enam kabupaten yakni Paser, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Berau, dan Penajam Paser Utara.
Dengan posisi NTP yang masih berada di atas angka 100, kondisi ekonomi petani di Kaltim dinilai tetap relatif kuat. Meski demikian, dinamika harga komoditas dan biaya produksi tetap menjadi faktor yang memengaruhi perubahan indikator tersebut dari bulan ke bulan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo