Penurunan ini menjadi yang terdalam dalam beberapa bulan terakhir, bahkan sempat menyentuh titik terendah sejak November 2025.
Data perdagangan menunjukkan harga emas turun hampir 6 persen dalam sehari. Sepanjang pekan lalu, tekanan bahkan lebih besar dengan koreksi dua digit, menjadikannya pelemahan paling signifikan dalam puluhan tahun terakhir.
Baca Juga: Breaking News: Kemacetan Parah 22 Km di Lingkar Gentong Tasikmalaya Saat Arus Balik
Analis pasar menilai gejolak ini memicu kombinasi faktor global. Memanasnya konflik di Timur Tengah mendorong munculnya harga energi sekaligus mengubah ekspektasi kebijakan moneter.
Pelaku pasar kini melihat peluang kenaikan suku bunga semakin besar, yang berdampak langsung pada melemahnya daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Selain itu, penguatan dolar AS turut mendorong permintaan emas. Dalam kondisi pasar yang cenderung “risk-off”, investor juga kehilangan emas untuk menutup kerugian pada instrumen lain, sehingga tekanan penjualan semakin besar.
Situasi ini diperparah oleh kekhawatiran inflasi akibat mahalnya biaya energi dan distribusi, terutama setelah terganggunya jalur vital perdagangan minyak global. Meski emas biasanya diuntungkan saat inflasi tinggi, kondisi suku bunga yang ikut naik justru menjadi faktor penekan utama.
Baca Juga: Misteri Anggrek Putih Tanpa Nama di Makam Vidi Aldiano, Keluarga Terharu Sekaligus Bingung
Dengan dinamika tersebut, pelaku pasar diminta lebih waspada. Pergerakan emas ke depan diperkirakan masih akan sangat mempengaruhi arah kebijakan bank sentral global serta perkembangan konflik geopolitik yang belum mereda.
Editor : Uways Alqadrie