Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Standar Keselamatan Tinggi di Hulu Migas Jadi Alasan Selektifnya Terima Pekerja

Ulil Mu'Awanah • Jumat, 27 Maret 2026 | 20:00 WIB

TEGAS: Industri migas tidak memberi ruang kompromi terhadap aspek keselamatan.
TEGAS: Industri migas tidak memberi ruang kompromi terhadap aspek keselamatan.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN — Industri minyak dan gas bumi (migas) dikenal sebagai salah satu sektor dengan tingkat risiko kerja yang tinggi, sehingga penerapan standar keselamatan menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas operasional.

Ketatnya standar ini di satu sisi menjamin perlindungan bagi pekerja dan lingkungan, namun di sisi lain juga menjadi tantangan besar bagi keterlibatan masyarakat maupun pelaku usaha kecil.

“Safety di industri ini sangat ketat. Bahkan untuk perlengkapan dasar seperti baju tahan api saja harganya mahal. Itu belum termasuk sistem lainnya,” ucap Kepala SKK Migas Kalsul Azhari Idris.

Dirinya menegaskan bahwa industri migas tidak memberi ruang kompromi terhadap aspek keselamatan. Setiap proses, mulai dari eksplorasi hingga produksi, wajib mengikuti standar operasional yang ketat dan berlapis.

Ia menjelaskan, perlengkapan keselamatan hanyalah salah satu komponen dari sistem besar yang mencakup teknologi pengeboran, pengendalian tekanan, hingga prosedur tanggap darurat. Seluruh elemen tersebut harus dipenuhi secara menyeluruh untuk meminimalkan potensi kecelakaan kerja.

Sebagai perbandingan, Azhari menyinggung praktik pengeboran ilegal yang masih ditemukan di sejumlah daerah. Aktivitas tersebut umumnya dilakukan tanpa standar keselamatan yang memadai, sehingga berisiko tinggi menimbulkan kecelakaan fatal.

“Tanpa casing dan sistem pengamanan, tekanan gas bisa menyebabkan ledakan. Itu yang sering terjadi di sumur-sumur ilegal,” jelasnya.

Menurutnya, banyak kasus kecelakaan di sektor ilegal terjadi ketika pengeboran mencapai kedalaman tertentu dan menghadapi tekanan gas tinggi tanpa perlindungan teknis. Hal ini tidak hanya membahayakan pekerja, tetapi juga berpotensi merusak lingkungan sekitar.

Azhari menegaskan bahwa standar keselamatan dalam industri migas bukan sekadar formalitas atau pemenuhan regulasi, melainkan kebutuhan mutlak yang tidak bisa ditawar.

Oleh karena itu, hanya perusahaan dengan kemampuan teknis, sumber daya manusia yang kompeten, serta dukungan finansial yang kuat yang dapat beroperasi di sektor ini.

Kondisi tersebut sekaligus menjelaskan tingginya barrier to entry di industri migas. Selain membutuhkan investasi besar, pelaku usaha juga harus mampu memenuhi berbagai regulasi yang kompleks dan standar keselamatan yang tinggi.

"Hal ini membuat sektor migas tetap menjadi industri yang eksklusif, namun dengan jaminan keamanan yang lebih terukur bagi seluruh pihak yang terlibat," tandasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#hulu migas #perusahaan #keselamatan #prioritas